4 Dec 2008, 21:08
Eksperimen MAS
by Wira


Bau Tae’ di Sini!

Maaf sebelumnya, ingatanku agak kacau. Sebelumnya aku menulis bahwa Sorga Neraka adalah Malam Chairil Anwar terakhir. Tapi tiba-tiba aku ragu, jangan-jangan cerita berikut inilah yang merupakan Malam Chairil Anwar terakhir, bukannya Malam Apresiasi Sastra yang pertama. Aku ragu, kisah ini mengambil waktu Oktober 1995 atau April 1996 ya? Tapi untuk sementara, anggap saja ini adalah MAS yang pertama, dalam rangka Bulan Bahasa 1995.

Pentas anak angin kali ini terinspirasi dari pementasan Bali Eksperimental Teater nya Nanoq da Kansas. Ada keinginan untuk bereksperimen melalui gesture, olah tubuh. Akhirnya aku mencoba untuk meng-create sebuah naskah secara dadakan, bercerita tentang kekuatan uang dan kekuasaan. Naskah tanpa teks ini kemudian dikembangkan oleh para sutradara kolaborasi antara Eka Sucahya dan Wahyu Dhyatmika, walaupun pada akhirnya yang lebih berperan adalah Wahyu, karena kesibukan Sucahya di OSIS.

Jika pementasan Sorga Neraka adalah pementasan yang paling memberikan kepuasan buatku, maka sangat bertolak belakang dengan pementasan kali ini. Ini adalah pementasan terburuk yang pernah aku jalani. Mungkin faktor utama yang menjadi kendala adalah kemampuan olah tubuh anak angin yang asal-asalan, selain tentunya konsep naskah yang amat sangat kacau balau sekali. Faktor latihan yang amat singkat hanya menjadi faktor yang kesekian.

Tiba saatnya pementasan. Undangan yang datang adalah seniman-seniman kawakan di Bali semisal Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Wayan Sunarta, Juniarta, Mas Ruscitadewi, beberapa seniman Sanggar Posti, dan lain-lain. Ada juga beberapa siswa SMP 9 Denpasar, dimana terselip Kojek Kecil dan Chamot Kecil di sana.

Ah, sepertinya detail pementasan tidak perlu kuceritakan. Satu kata yang tepat hanyalah, “ANCUR!” Lebih baik kita saksikan spontanitas dari para undangan saja. Ada satu penampilan yang masih aku ingat sampai saat ini, dari salah satu anggota sebuah sanggar yang enggan kuungkap identitasnya. Dia pernah memberikan materi olah tubuh kepada anak angin saat workshop pelantikan beberapa waktu sebelum pementasan ini. Lalu setelah itu sempat menawarkan diri untuk menjadi pelatih bagi anak angin, namun kita menolak. Spontanitasnya hanyalah meliuk-liuk selama beberapa menit di panggung, seolah-olah ingin menunjukkan, “Begini lho seharusnya olah tubuh yang bener!” Lalu diakhiri dengan melompat dan menjatuhkan diri ke lantai, pada posisi hidung menyentuh lantai, mengendus, lalu berkata, “Ah, bau tae’ di sini!”

Di akhir pementasan, saatnya evaluasi, kita benar-benar dibantai oleh penonton. Tidak ada komentar yang membanggakan. Semua pemain dan sutradara tertunduk lesu. Tidak ada pembelaan. Kita memang benar-benar hancur. Bahkan Kojek dan Chamot masih mengingat momen ini setelah setahun kemudian mereka menjadi anak angin, sebagai momen yang sungguh mengesalkan hati. “Aku bela-belain datang memenuhi undangan Teater Angin, berharap mendapat pementasan yang bermutu. Eh, yang aku dapatkan sungguh pementasan yang tidak bermutu.”

Kita kembali ke “Bau tae’ di sini” saja. Apa ya maksudnya? Ada dugaan bahwa si pencetus bau tae’ di sini merasa sakit hati dengan penolakan anak angin menjadikannya pelatih, sehingga dia melampiaskan dengan kata-kata tersebut. Tapi kelompok yang lebih objektif, menilai bahwa kata-kata itu murni muncul karena memang pementasan kita setara dengan bau tae’. Apapun itu, yang jelas setelah tercium bau tae’ di Aula Smansa, anak angin berpikir seribu kali sebelum memutuskan untuk bereksperimen dengan olah tubuh.

wah, sepertinya sy kenal itu yang bilang bau tae itu, pas angkatan sy, pernah ngelatih wlp tanpa diundang, trus bilang gn.. “tae kalian semua”
dari bahasanya mungkin orang yang sama.
pemakai bahasa septictank!!
maaf, emosian dikit cerita soal ini.

[Reply]

Wira Reply:

Ah, sepertinya beda Jer. Karena seingatku, si Nurcholis ini sudah tidak beredar lagi di jamanmu. Ups… aku kelepasan mengungkap nama tokoh utama kita….

Sorry Wir, ingatanku agak berbeda tentang ini :-)
Yang ada di otakku ini adalah pementasan kita di Faksas. Tentang menangisi kematian seorang ayah dimana yang bermain adalah kelas 2 dan kelas 1.
Kita latihan di rumah Dharma, yang aku ingat karena anjingnya Dharma bernafsu sama Phillip sang Obsesi.

Yang waktu itu sangat kurang adalah penghayatan dan olah vokal karena dialognya yang banyak menangis dan tidak teratur pergantiannya. Saking marahnya Eka Sucahya kita sampai bengong dan akhirnya tidur di emperan Faksas beralas jaket Angin. Hahaha yang ini aku ingat karena pemandangan langsung ke Rumah Sakit Sanglah yang tidak terlupakan

Pementasan ini masuk Bali Post, dan satu-satunya pujian yang ada hanyalah Theater Angin membawa Damar Kurung dan disebut sadar ruang ;-p

Tentang olah tubuh di aula SMANSA acara MAS itu justru yang agak berhasil, terutama karena Vini yang tampil cantik dalam busana baju ketat dan properti daun-daun merambat sebagai pohon

Hihihi, entah mana yang benar. Satu dekade lewat sedikit menghapus memori otak. Ada saksi hidup lain barangkali?

[Reply]

Wira Reply:

Oh, mungkin saja benar, tragedi bau tae’ tempatnya di Faksas. Tapi klo olah tubuh yang aku ceritain ini memang hancur kok. Kojek dan Chamot yang masih SMP jadi saksinya. Mungkin kamu belum terlibat di sini, karena kejadiannya Oktober 1995. Klo ga salah kamu baru masuk angin November 1995 kan? Klo olah tubuh dengan Vini yang cantik dan ketat? Btw, Vini siapa ya? Aku lupa ada anak angin yang namanya Vini. Anak ‘99 kah? Klo iya, berarti memang ada dua pementasan olah tubuh. Pas aku kelas 2, dan pas aku kelas 3. Tapi entahlah… satu dekade yang telah lewat memang sedikit menghapus memori otak kita….

Banyak yah karya Angin, hebat..

Oh kalo pementasan ada interaksi dengan penonton yah, kek penonton ikut masuk kepementasan?

hmmm…wah jadi sedikit tau ney..sepertinya dunia teater menarik sekali..

tetap berkarya Wir kalo pun udah jadi PNs sekarng..

Oh iya saya mo nambahkan wir di list Blogger saya.

Suksma.

[Reply]

Wira Reply:

Eh, ada SIge mampir lagi. Hehehe… ada juga memang pementasan yang ngelibatin penonton, kayak acara lenong-lenong di TV itu. Tapi interaksi yang saya maksud di cerita ini, interaksi setelah pementasan selesai. Semacam evaluasi gitu lah. Hehehe… karena saya PNS, makanya punya banyak waktu buat nge-blog… huahahah…. Gede kerja di Mitrais ya? Salam buat Agus Adi ya, kalau2 dia masih kerja di sana. Dan wow… thanks banget udah naruh link saya di blog nya Gede. Thanks banget.

angin tidak selalu diatas angin… :)

[Reply]

Wira Reply:

Memang. Ini namanya Rwa Bhinneda. Ada siang, ada malam. Ada atas, ada bawah. Ada baik, ada buruk. Kadang anak angin tampil bagus, kadang anak angin tampil jelek. Rwa Bhinneda.

kayaknya anak angin tuh emang malas latian vokal, olah tubuh, dan lain2… hehehe… langsung pentas2 aja! hahaha….

** keto kone… :D

[Reply]

Wira Reply:

Nyen kone keto Doel? Ah, gosip itu… kita ga malas latian kok. Cuman, kita amat sangat malas banget latian… hihihi….

Eh iya, sori. Bukan Vini, tapi Vivin, angkatanmu. Gak tau dimana dia sekarang. Idolanya anak-anak Angin angkatanku
Hahaha

[Reply]

Wira Reply:

Oh, Vivin. Ayu Vivin Sulistya Widani. Hmm… idola semua angkatan tuh…. Hehehe… waktu aku kelas 1, bareng Adhi n Ardita kita berlomba-lomba berebut hati si Vivin. Suatu saat akan kutulis kisahnya di sini… hihihi….

Aku kok lupa-lupa ingat kejadian ini ya? Tapi kalau pementasan sampai dibantai dan dikatain ‘Bau Tae’ kayaknya bukan yang ini deh. Para senior sastra di Sanggar Minum Kopi dan seniman2 Denpasar kala itu sangat supportif pada kegiatan Angin, dan hardly ever harshly critize us. Kritik apapun, seingatku, selalu disampaikan dengan jenaka, konstruktif dan encouraging. Tidak ada yang sampai mematahkan semangat. Justru karena itu, kita selalu enjoy dan termotivasi terus berkarya. Pementasan ini –sekali lagi, seingatku– adalah bagian dari improvisasi kita sebagai anak Angin. Bagian dari eksplorasi kita kala itu. Sebagai sebuah pertunjukan bisa saja gagal, tapi sebagai sebuah eksperimen kesenian, dia tidak layak disebut ‘ancur’. Kojek dan Chamot complain? Ah.. c’mon… mereka kan anak SMP waktu itu… mana ngerti! Wakakakakak………

[Reply]

Wira Reply:

Whaaa… Mbah Wahyu akhirnya keluar dari pertapaannya, dan langsung nyakcak dengan 9 komen. Ngerapel euy. Hahaha… mungkin bahasaku terlalu hiperbolis ya. Seingatku, setelah pementasan itu, kita semuanya sedih Yu. Terlepas dari bahagianya Imam dapat melihat ke-eksotis-an Vivin, kita sedih karena tidak bisa tampil bagus. Itu yang membuat aku “merasa” dibantai. Tapi proses kreatif kita waktu itu dalam rangka eksperimen kesenian dengan berimprovisasi dan mengeksplorasi diri memang pantas diacungi jempol. Dan memang betul, seperti kata Imam, insiden bau tae’ bukan di pementasan yang ini, tapi pementasan yang di Faksas. Orang yang menyentil dengan bau tae’ itu adalah orang yang sakit hati dengan penolakan kita terhadap permintaannya sebagai pelatih, bukan seniman eks Sanggar Minum Kopi yang kita hormati. Satu lagi, tentang Kojek dan Chamot, aku ralat petikan langsung mereka di cerita ini. Ini komentar Kojek di Friendster ku karena dia mengaku tidak berhasil menulis komen di sini, “Aku ga pernah ingat komentar seperti itu, yang kuinget hanya mi ayam jalan gadung dan sebuah pementasan yang ga kumengerti. Hehehehe….”

@Wahyu, Bli.. ingat ga sama saya?hehe klo ga, inget2 lagi ya,wakaka. kirim nae majalah Temponya satu,hehe. gmn kbrnya Bli Fredi? rencana ada reuni 27 Des kone, datang yuk?

[Reply]

Wira Reply:

-anggap saja dari Wahyu- Eh, Jer ini yang mana ya? Waduh, kalau mau Tempo gratis, jangan sok kenal sok dekat dong. Sok tahu adik saya pula. Reuni? Ah, males saya dateng klo Jer sudah menunggu di sana untuk sebuah Tempo gratis…. :)

sorry wir baru baca

iya neh aku lupa kejadian itu yah
cang masih lugu nok saat itu
tapi aku inget (me and kojek sempat dateng saat itu)

BTW yang gesture meliuk-liuk itu dan “dia” akhirnya meloncat dan menciumi lantai saat itu kayaknya aku dah jadi anak angin deh…dan aku inget banget kejadian itu…

[Reply]

Wira Reply:

Hah? Kamu sudah jadi anak angin pada saat insiden bau tae’? Yang bener? Ga mungkin ah. Wong waktu itu aku masih kelas dua. Mungkin kamu terlalu menghayati cerita-cerita kita kali… hihihi….

aku ingat waktu itu qt latihan di kelas 2. 7, sore hari dan wahyu jadi sutradaranya. Menurutku sich jadi bagian yang tak terlupakan karena darma jadi sewot ama aku gara-gara tanganku tak sengaja nyentuh ….. akibat gerakan eksperimen kita. Sebuha kreativitas yach tetap jadi bagian yang indah dan pahitnya, tapi aku ingat setelah latihan qt main basket bareng. Rusdi, sukada dll sampe jam 7 an. Oh ya vivin, aku ingat si penggoda yang bikin qt sempat-sempatnya numpang berhenti waktu tour keliling bali bertiga (wira, ardita, adhi) hanya sekedar cari minum dan ngliat tampangnya he…he….

[Reply]

Wira Reply:

Ayu Vivin Sulistya Widani. Huahahah… bagaikan pahlawan yang akan menuju medan perang, kita berniat untuk meminta doa restu kepada wanita kita. Tapi gubrakzzz… ternyata wanita kita sedang diapeli pahlawan nya sendiri… huahahah… dan kita lalu berpura-pura hanya membutuhkan minum….

Tuh kan bener Wir, pementasan yang latihannya Adhi “menyentuh” Dharma di Aula Smansa itu tidak ada kata-kata Bau Taek. Semuanya positif masukannya.

Justru yang Bau Taek itu pementasan di Faksas !!
Abis itu Nurxxxxx masuk panggung, kelejit-kelejit kayak cacing diatas magic jar, terus bilang :
“Wah, bauk taek disini !!”

Hahaha - kayaknya saya menang perdebatan ini Wir :-)

[Reply]

Wira Reply:

Betul Mam. Bau tae’ yang di Faksas. Tapi yang di aula itu juga meninggalkan kesan kepedihan yang mendalam kok, setidaknya buat aku pribadi…. Berhubung yang di Faksas itu aku ga ikut main, dan ada “sesuatu” yang lebih membuat aku terkesan, [lain kali "mungkin" kuceritakan], jadi aku tidak begitu mengingat kegagalan pentas kita waktu itu. Hehehe… ingatan Imam memang lebih tokcer…. Btw, istilahnya bagus juga, “Kelejit-kelejit kayak cacing di atas magic jar….”

12 Dec 2008, 21:24
by eka sucahya


hahahahaha….
ampunn..seru juga kalian bergumul mengingat masa lalu..ehh emangnya aku marah2 apa ya???
ada satu malam yg aku ingat betul apa yg dibilang umbu..aku sm wahyu sampe lemes kayak abis diperes…malam itu nanoq dkk pentas dan juga kita dapat kunjungan dari anak2 sma dari mataram…seingatku ini yg kau main dan kira2 279 kali bilang “tongkaaatttttt..” hehehehe..anyway..umbu sempet bilang..jangan2 anak2 angin ini keberatan namanya..inget gak kita punya kaos putih “the absurd generation”??? momen itu banyak melecut diriku dan aku yakin juga banyak memicu wahyu untuk lebih “gila”…

seru juga masa2 pencarian kita ya…

[Reply]

Wira Reply:

Wuuaaah… ada Sucahya… apa kabar Pak? Hehehe… sempet-sempetnya ngitung berapa kali aku teriak, “Tongkaaattt….” Tapi yang itu bukan yang ini, Ka. Tongkat itu ada di Sorga Neraka. Kalau pementasan yang kuceritakan ini, tanpa dialog. Walaupun Wahyu tidak sepakat dibilang hancur, tapi menurutku memang hancur. Soal Umbu yang bilang, “Jangan-jangan anak angin ini keberatan nama…,” aku belum ada di angin saat itu. Lalu kamu dan Wahyu selalu dan selalu menekankan kalimat itu, bahwa kita jangan sampai keberatan nama. Itu juga yang membuat aku selalu berusaha dan berusaha berkreatifitas. Ah, the absurd generation, sekarang sudah tidak tertulis di kaos putih lagi, tapi di jaket hitam. Memang berat membawa nama pemberian STA ini.

hehehe…… aku inget pementasan “tongkattttt” itu. Di lapangan tenis mainnya, malam-malam. waktu itu, kita kelas 1 atau kelas 2 ya Ka? Kalau gak salah, pementasan itu tentang sebuah ‘tongkat’ yang jadi berhala sekelompok orang, dikejar, diperebutkan, dipuja-puja, terus ternyata bukan apa-apa, alias kosong. Memang konsepnya gak jelas, alias terlalu absurd. Eksekusinya juga belum mumpuni benar. Namanya saja masih belajar.

[Reply]

Wira Reply:

Wah… wah… wah…. Pada payah ni ingatan kalian. Sekali lagi aku tegaskan, “Tongkattttt”, ini adalah kata saktiku di pementasan Sorga Neraka! Tapi memang benar Yu, pementasan di ceritaku ini seperti yang kamu deskripsikan di atas. Cuman, simbol yang diperebutkan dan dipuja-puja itu bukan TONGKAT, tapi UANG dan DASI! Latihannya memang di lapangan tenis. Nah, hasil akhirnya, ya seperti yang aku bilang, hancur… namanya juga belajar….

21 Dec 2008, 11:41
by eka sucahya


iya yu…itu kita pentasnya di aula smansa..yang pentas di lapangan itu nanoq dan kawan2..dia ngajak kita muter2..semacam pementasan berjalan gt lah..trus anak2 dari mataram juga mentasnya di aula kl gak salah…itu kita kelas 1 mau naik kelas 2 deh kayaknya..

[Reply]

Wira Reply:

Nah, tuh kan? Kalian masih kelas 1 mau naik kelas 2. Aku kan belum lahir waktu itu….

26 Dec 2008, 16:22
by Gantet


tul. Itu pentas di faksas.
aku inget betul, soalnya aku tepat di depannya. Nafasnya yg bau taek masih kuinget. itu pentas perdana kita yg olahtubuh.
latian di lapangan tenis.
Vivin ? mmm……..masih kuingat wajah genitnya
hahahahahha. angkatan kita waktu itu emang banyak yg manis.
sapa lg ya……….mmmmm………..sambil membayangkan, tanganku menyelinap turun

by Wira: Waduh… semakin kacau aja perdebatan ini. Aku sepakat, “bau tae” itu pementasan di Faksas. Tapi olah tubuh yang aku ceritakan ini, pentasnya di Aula kok. Bagaimana kalau kita tanya Vivin untuk verifikasi kebenarannya?

[Reply]

Hahaha
Gantet tidak mungkin melupakan Vivin
Dia pecandu berat Vivin
hahaha

by Wira: Hah? Gantet pecandu berat Vivin? Tidak puaskah kau mencandui A… A… A… A… A… A… A… dan E… E… E… E… E… E… E…. [Sama seperti Vivin, A dan E anak angin angkatanku juga. A, seperti nama bulan. E, inisial nama aslinya adalah AM.]

[Reply]

gantet jaruh……… ampun ampun………

by Wira: Kalau tidak jaruh, namanya bukan Gantet….

[Reply]

Angin kadang menyejukkan dan terkadang terhempas tanpa makna, tapi dengan itu semua kan menjadikan angin semakin sejuk saja bli. Baunya udah hilang khan, Tiup aja bli :D

by Wira: Hahaha… kadang angin juga tertiup dari pantat, semakin ditiup semakin bau…. :D

[Reply]

Tiupin ja Baunya bli, Angin kadang bawa kesejukkan terkadang juga datang tanpa arah dan tersamarkan. Semangat Bli :D

by Wira: Sepertinya komen yang redundan. Mungkin karena koneksi internetnya yang putus nyambung? Atau karena komennya ga tampil-tampil setelah ditunggu sekian lama? Itu kan karena kombinasi nama dan emailnya belum pernah di-approve…. Hehehe… ayo kita tetap semangat!

[Reply]

Tiupin aja baunya bli pakai angin yang keras. :D Angin khan kadang sejuk, kadang juga datang tak tentu arah dan samar. Tapi tetap semangat Bli :D

by Wira: Hehehe… thanks Departa.

[Reply]

wahai anak-anak muda (eh masih ada yang muda gak di antara kalian?), aduh aku mau ngomong apa ya? lupa…!!!
salam dan selamat berkarya sajalah untuk dikau Wira dan kawan2 di Angin :)

by Wira: WHUAHHH!!! KEJUTAN TERBESAR!!! Ada Mas Nanoq! Selamat datang, Mas Nanoq, thanks sudah menyempatkan diri mampir. Mohon maaf kalau hidangannya ala kadar….

[Reply]

hahaha, mas Nanoq bisa aja, lumayan mas, beberapa muda, beberapa pernah muda, dan semua jiwa mudanya masih ada,heheh =)

by Wira: Haha… sepertinya Mas Nanoq sudah merasa tua, Jer…. ;)

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]