20 Dec 2008, 21:08
Journey
by Wira


Membelah Bali [2]

Oh, iya. Ide bersepeda keliling Bali ini memang benar-benar tidak bertanggung jawab. Kita bahkan belum menetapkan rute yang akan dilalui. Kita baru rapat menentukan rute, sore itu, di sekolah, setelah ngumpul bertiga, beberapa detik sebelum berangkat! Nah, lho….

Diambil keputusan, kita pergi ke arah utara. Pokoknya nyampe di Bedugul dulu lah. Ada sesuatu yang menunggu kita di sana, tapi aku ceritakan nanti saja. Setelah itu ke mana, biarlah kayuhan kaki di atas pedal yang menentukan. Lalu masalah belum berhenti pada persoalan penentuan rute. Masalah utama, di mana kita akan menginap? Ah, nekat sajalah. Kita toh masih di Bali. Orang-orang Bali ramah-ramah kok. Nginep di sembarang rumah penduduk saja. Atau kalau ndak, bisa mencari poskamling yang saat itu sedang booming di Bali.

Maka, sore itu, sekitar jam 5, kita memulai perjalanan kita. Gadung, SMP 3, Melati, Suli, Gatsu, Cokroaminoto. Sampai di sini, muncul ide brillian lagi. Sungguh brillian, karena menyangkut Ayu Vivin Sulistya Widani. Dia salah satu anak angin angkatan kita, boleh dikatakan wanita pujaan bersama. Hehehe… rumah Vivin di daerah Cokroaminoto. Mirah Delima, kalau ndak salah. Tidak ada salahnya kita mampir, sekedar menyombongkan diri, “Hei Vivin, kita bertiga akan bersepeda keliling Bali. Hebat ya!” Begitu kira-kira kalimat kita nanti kalau sudah di hadapan Vivin.

Hihihi… bagaikan pahlawan yang akan menuju medan perang, kita bertiga menemui wanita pujaan untuk minta do’a restu. Tapi, seperti kata pepatah, bagaikan pungguk merindukan bulan. Pungguknya tentu saja kita bertiga. Dan sesampainya di rumah sang bulan, gubrakz…, sang bulan sudah tertelan Kala Rau. Hehehe… Vivin sedang diapeli oleh pahlawan hatinya. Langit serasa runtuh. Maksud hati menyombongkan diri terpaksa dikubur dalam-dalam. Do’a restu yang hendak diminta pun hanya sebatas basa-basi. Jadilah kita berdalih, kita hanya membutuhkan minuman sebagai bekal… huahahah….

Selepas acara minta bekal minum di rumah Vivin, kita tak patah arang untuk mendapatkan do’a restu. Kali ini dari wanita pujaan hati masing-masing. Maka berhentilah kita di sebuah telepon umum pinggir jalan di sekitar Kapal. Ardita menelepon wanita pujaan hatinya, anak SMA 2. Adhi menelepon HE, anak KISS-1. Aku sendiri menelepon CD, anak angin juga. Tapi sayang beribu sayang, entah kesialan dari mana, tidak satupun pujaan hati kita ada di rumah. Sedih. Tapi the show must go on. Walaupun tanpa do’a restu, kita tetap melanjutkan perjalanan. [to be continued]

20 Dec 2008, 21:52
by adhitiana


habis ngapelnya pake sepeda…kalah dong dengan mobil..he..he… aku ingat mana mikir ban bocor. tidur dimana…bawa uang pada pas-pasan he..he…

[Reply]

Wira Reply:

Eh, kayaknya bukan ban bocor deh Dhi. Tapi tali rem ku yang putus. Jadi, di tengah hujan, antara Bedugul dan Gitgit, kita hanya menuntun sepeda kita….

Ooh, jadi CD ya pujaan hatimu Wir?
Cuit-cuit ;-)

[Reply]

Wira Reply:

Sssttt… jangan bilang-bilang ya Mam… ini antara kita berdua saja… sssttt…. :D

waah, keren nih acaranya.

by Wira: Hihihi… acara orang gila yang lagi ga ada kerjaan. Mas Anton, thanks udah mampir ya….

[Reply]

wah…, nggak ngajak-ngajak nieh! kapan berangkatnya?

by Wira: Beh… Gler, Gler… ayo kita panggil Doraemon, minta kantung ajaibnya ngeluarin mesin waktu, lalu kita kembali ke masa 12 tahun 10 bulan yang lalu. Tak ajak men….

[Reply]

CD??
pantas Bli Wira suka, inisialnya gt sih, hahaha

btw, kalian bertiga lelaki sejati!! salut!

by Wira: Kok tahu Jer? CD = Cantik Ding…. Saya kan emang suka ama yang cantik-cantik…. :D

[Reply]

CD,, Citra Dewi.. nama sy.. huahaha..

by Wira: Hualah… tolong ya, jangan buka-buka rahasia dong…. :D

[Reply]

hahaha…..ini pasti perjalan yang bakal dikenang seumur-umur..mantab Bli, saya akan segera menyusul…

Lucunya kok minta doa restu ama cew pujaan…hahaha..

Seru ceritanya..lanjut ke chapter 3.

Trims

by Wira: Betul… perjalanan yang akan selalu saya ceritakan kepada anak cucu nantinya dengan penuh kebanggaan. Hehehe… men, sama siapa lagi minta doa restu, setelah kita [Adhi dan saya] membohongi orang tua masing-masing? Tapi sayang, akhirnya ga dapet doa restu sama sekali, hihihi…. You’re welcome.

[Reply]

hahaha…

by Wira: Hihihi….

[Reply]

Citra itu yang mana Wir? hehehe…… kalian itu memang gak jelas. Sudah disebut ada CD, HE, anak SMA2, malah mampirnya ke rumah Vivin…… ya jelas saja, petualangan asmara kalian rontok semua…. fokus dong fokus………..hehehe…..

by Wira: Huahaha… Citra itu yang mana ya? Ayo Citra, keluar dan tampakkanlah wujudmu! [Gungwie, bertanggungjawablah! Siapa Citra?] Hahaha… padahal rumahnya HE juga di Ubung, kita lewati waktu itu, tapi kok ga berani mampir ya? Hihihi….

[Reply]

Perasaan , pujaan hatinya Wira saat itu GD deh… yang klo berangkat ke sekolah pake Yamaha Alfa II R. Jadi bukan CD! KISS punya potonya kalian lagi nagkring di belakang mobilnya Rusdi dari depan Kebun Raya….coba tak cariin dulu potonya he he he

by Wira: Ah, yang bener yang mana sih? CD atau GD ya? Tapi agak-agak mirip kok, klo C dikasi katik sedikit, jadi G deh. Hihihi… seperti kata Jer, terserah imajinasi pembaca saja.

[Reply]

Iya, makanya aku bingung, kok jadi Citra? Bukannya GD Wir? Yang terus dihitung itu kan? “Satu……..duaaaa………tigaaa……..”

by Wira: Hahaha… masih inget juga si Wahyu. Satu… dua… tiga… sampai sepuluh, akhirnya ditolak juga… hueheheheh….

[Reply]

wah…vivin…ehm…ehm…dimana dia sekarang? udah punya anak kalik ya? ato udah tambah gembrot?

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment