29 Dec 2008, 21:08
Journey
by Wira


Membelah Bali [6]

Meninggalkan Gitgit relatif lebih mudah. Pertama, karena rem sepedaku sudah mantap. Kedua, karena cuaca tidak lagi hujan. Ketiga, tentu saja karena jalanan yang menurun, walaupun masih berkelok, jadi tidak diperlukan power maksimal untuk mengayuh sepeda. Fase ini adalah fase bersenang-senang buat kita. Bahkan sempet-sempetnya kita membuat foto “jatuh tertimpa sepeda” yang tentu saja direkayasa. Ide ini tercetus karena pada waktu aku jatuh di hari sebelumnya, tidak sempat diabadikan. Ada-ada saja.

Kita tiba di Singaraja tepat di siang hari. Perundingan kecil memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Kintamani, ketimbang mengambil jalan pantai menuju Karangasem. Nah, ternyata fase ini adalah fase yang paling berat dari fase-fase sebelumnya. Ada beberapa faktor penyebab. Pertama, karena cuaca panas di siang hari mengakibatkan kita cepat haus dan capek. Kedua, karena jalanan yang menanjak secara konsisten, walaupun kemiringannya mungkin tidak lebih dari 10 derajat, tapi lumayan perlu power yang besar untuk mengayuh sepeda. Ketiga, semangat kita mulai menurun mengingat kedua faktor sebelumnya!

Yang lebih parah, kekompakan kita bertiga mulai menurun. Di perjalanan sebelumnya, ritme kita selalu sama. Capek, kita capek bersama. Lapar haus, kita lapar haus bersama. Semangat, kita semangat bersama. Hal ini mempermudah mengatur ritme perjalanan, kapan mesti istirahat, kapan mesti mengayuh sekuat tenaga, kapan mesti tertawa-tawa riang, kapan mesti menyanyi-nyanyi gila.

Tapi, Singaraja menuju Kintamani sungguh berbeda. Ketidakkompakan kita diperparah dengan munculnya egoisme masing-masing. Ketika salah satu dari kita butuh istirahat, dua yang lain malah tidak peduli, terus melesat mengayuh sepedanya. Ketika salah satu dari kita ingin tertawa lepas, dua yang lain sudah terlalu letih untuk tertawa. Ketika salah satu dari kita ingin menyanyi untuk menambah semangat, dua yang lain terlalu malu untuk dikira orang gila. Begitulah. Kita pecah.

Tapi perpecahan dan ketidakkompakan kita ternyata membawa sedikit berkah. Ketika salah satu dari kita sedang berada di titik lelah dan semangat yang paling rendah, ada godaan untuk mengakhiri perjalanan ini, dengan cara menumpang truk-truk yang beberapa kali lewat di depan hidung. Tentu saja dua yang lain tidak setuju, karena hal itu akan menodai perjalanan ini. Kita sudah sejauh ini, man. Masak harus berakhir di atas truk! Di mana letak kebanggaannya? Yah, seandainya saja di fase ini titik lelah dan semangat yang paling rendah kita ada di level yang sama, bisa jadi ide melanjutkan perjalanan di atas truk adalah ide yang paling brilian bagi kita bertiga. Untungnya kita tidak kompak, jadi masih ada yang mengingatkan untuk melupakan ide naik truk.

Begitulah, ketidakkompakan ini tetap menjaga kesucian perjalanan kita. Akhirnya, sekitar jam enam sore, kita tiba di sebuah warung makan, di desa terpencil daerah Kintamani. Titik kompak kita sudah berada di level yang sama di sini. Jadi, disepakati, kita singgah sebentar untuk makan, lalu melanjutkan perjalanan barang satu dua jam, ke desa berikutnya, untuk mencari tempat beristirahat. Tapi menurut si ibu tukang warung, desa berikutnya masih sangat jauh. Yang ada hanyalah hutan belantara yang gelap gulita.

Kita bertiga hanya bisa saling pandang mendengar pendapat si ibu. Dalam benak masing-masing, ada keinginan untuk diperbolehkan menginap di rumah si ibu, tapi entah kenapa tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut ini. Untunglah si ibu mengerti dengan kegelisahan kita, lalu dengan kerelaan mendalam menawarkan salah satu kamarnya sebagai tempat beristirahat, walaupun dengan tambahan embel-embel khas Bali, “Kanggeang, tongosne nenten becik.” [Harap maklum, tempatnya jelek] Terima kasih ibu, terima kasih Tuhan. Ini sungguh mewah. [to be continued]

See? Poin of view-mu itu selalu optimis. “untung, tidak kompak. Jadi bisa tetap lanjut bersepeda.” Selalu berusaha melihat the bright side. hehehe…..

by Wira: Hahaha… kebetulan saja ketidakkompakan itu berakhir menyenangkan. Coba seandainya kita tidak kompak, lalu celaka, pasti deh memaki habis-habisan. A*u! Anji**! Siapa suruh tidak kompak! Hahaha….

[Reply]

baca lanjutannya dulu ah…

by Wira: Hehe… ngerapel ya….

[Reply]

hahaha.. pasti pasang muka memelas semuaa…

by Wira: Haha… salah satu pelajaran dasar di angin: akting muka memelas….

[Reply]

Mimih..Joh sajan perjalanannya puk..naik motor aja capek dari denpasar ke gigit..apalagi naik sepeda..hehe..

Semakin lama cerita semakin seru aja..trus pas nginep di rumah ibu warung tuh, ibunya punya anak cewek ga?? wekeke..

by Wira: Huah!!! Perhatiannya Sige teuteup aja yah… ke masalah cewek. Gmana kabar tante yang itu tuh? Hihihih… :D

[Reply]

makanya kalian mesti ingat doa mama…

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment