8 Jan 2009, 21:08
Eksperimen Journey Person Puisi
by Wira


Mejogedbumbungan di Kerambitan [Mas Ari' Nganten]

Takkan pernah kubiarkan dunia berhenti berputar
Takkan pernah
Anak-anak berlari dalam suka abadi

Kupanggil namamu dari tempat yang jauh
Adakah kau mendengar dengan rasa rindu

Tangan, kaki, serasa lepas
Mengembara dalam kesenangan sendiri
Tapi… biarkan mereka berlari….
Seperti kami… membentangkan tangan….
Lihatlah! Langit begitu luas untuk kehadiranmu

Puisi di atas adalah sebuah puisi dari Sthiraprana Duarsa, berjudul Biarkan Anak-anak Berlari. Sthiraprana Duarsa, anak angin lebih fasih memanggilnya Mas Ari’, adalah seorang seniman yang memiliki hoby mengobati orang, alias dokter. Jangan salah, bukan dokter yang hoby nyeni!

Mas Ari’ aktif di Teater Angin sekitar pertengahan tahun 80-an, dan sempat melatih anak angin di awal-awal tahun 90-an. Ketika akan membuat operet pun, rumah Mas Ari’ akan menjadi referensi utama karena koleksi kasetnya yang buanyak buanget. Kedekatan emosional inilah yang menjadi alasan utama bagi anak angin untuk mempersembahkan sebuah pementasan di hari pernikahan Mas Ari’, kalau tidak salah pada Juni 1996.

Maka anak angin mulai bersiap. Semula tercetus ide untuk menampilkan RSU dengan warna lain, berpatok pada kesuksesan penampilan pada PSR sebelumnya. Tapi dengan pertimbangan durasi pementasan RSU yang relatif panjang, ide itu diurungkan. Akhirnya dibuatlah naskah drama eksperimen dengan durasi 5 s.d. 10 menit, bertema tentang cinta dan nafsu seksual.

Satu kejadian pada latihan persiapan yang masih aku ingat, adalah ketika Wahyu Dhyatmika menganggap para pemain kurang buas dalam mengekspresikan nafsu seksual di sebuah adegan. “Ayo! Lebih buas lagi! Berfantasilah dengan wanita-wanita paling seksi di benak kalian!” begitu kira-kira arahan Wahyu. Ketika Gantet dan pemain lain lebih memilih berfantasi dengan Britney Spears, Tamara Blezynski, Ayu Azhari, dan artis-artis hot lainnya, Adhi Tiana cukup dengan wanita pujaan hatinya, HE. Sambil meneriakkan nama HE, Adhi membuat gerakan-gerakan eksplosif yang membuat Wahyu puas. Hihi… di mata Adhi, pada waktu itu, kebahenolan HE memang mengalahkan semua wanita. [Buat Shanti, --istrinya Adhi-- peace, boleh cubit perutnya Adhi....]

Di hari-H, dengan meminjam mobil pick-up seorang teman dari Eka Sucahya, kita siap berangkat ke Kerambitan. Sedikit merepotkan, karena kita mesti membawa podium upacara bendera yang super besar dan menara yang panjangnya melebihi badan pick-up. Tapi tidak apa-apa, demi Mas Ari’.

Sampai di Kerambitan, setelah setting panggung selesai dibuat, dan para tamu undangan berdatangan, oh my God, segala rencana mesti diubah total! Undangan yang datang tidak seperti bayangan semula. Perkiraan kita, hadirin hanya dipenuhi oleh komunitas seniman. Tapi ternyata tidak, karena hadirin didominasi oleh warga setempat, para tetangga Mas Ari’. Dengan pertimbangan bahwa audiens tidak cocok dengan materi pementasan, dengan berat hati kita memutuskan pembatalan drama eksperimen yang sudah kita siapkan sebelumnya. Sebagai pengganti, kita hanya akan membacakan puisi dari beberapa buku antologi puisi yang sudah kita bawa.

Satu per satu anak angin membacakan puisi pilihannya. Tiba giliran si Barli. Maju ke depan dengan suasana magis dan tampang super serius. Duduk di podium, Barli mulai membuka satu per satu halaman buku antologi di tangannya. Satu per satu, sampai halaman terakhir. Puisi apa di halaman terakhir? Lalu Barli berteriak lantang, “BUKAN PUISI! … Sthiraprana Duarsa, lahir di Kerambitan, pada tanggal bla bla bla….” Hahaha… ada-ada saja si Barli, bukannya membacakan puisi, dia malah membacakan biodata Mas Ari’….

Tibalah acara puncak, sebenarnya acara puncak bagi tamu-tamu tetangga Mas Ari’, yaitu tarian pergaulan, Joged Bumbung. Penarinya tentu saja cantik-cantik, membuat anak-anak angin tidak sabar untuk ikut ngibing. [Ngibing --bagi yang tidak tahu istilah ini-- adalah bentuk partisipasi dari penonton Joged Bumbung, utamanya laki-laki, untuk ikut menari berpasangan dengan penari] Anak angin yang ngibingnya paling lama dan paling heboh adalah Ardita. Ardita tidak sekedar ngibing, karena ngibingnya juga disertai fragmen singkat. Ceritanya, Ardita memarahi si penari yang berlakon sebagai istrinya. Dengan bekal ranting berdedaunan, Ardita berkali-kali memukuli pantat si penari, sampai dia [ceritanya] menangis sesenggukan minta ampun. Ardita memang top.

Dari semua pengibing, aku yang paling sial. Karena sok malu-malu sejak awal, akhirnya aku kebagian penari terakhir. Sialnya, penari terakhir ini tidak secantik dan seseksi penari-penari sebelumnya. Ah, tidak apa-apalah. Karena cuma aku yang belum turun, demi diabadikan berfoto bersama penari joged, aku turun juga, walaupun dengan ejekan temen-temen yang lain, “Siapa suruh ndak mau turun dari tadi… dapetnya yang paling jelek… wekkk….” Nasib….

hehehe……..terimakasih Wir. Yang paling mantap memang “raungan” Adhitiana saat latihan. Benar-benar penuh penghayatan dan menjiwai perannya…hihihi….

by Wira: Hehehe… thanks to HE….

[Reply]

tambahan sedikit: keputusan untuk tidak menampilkan drama eksperimen hasil latihan kita berhari-hari itu, diambil relatif cepat dan tanpa perdebatan. melihat audiens malam itu, kita semua kemungkinan akan dicakcak orang sebanjar jika membiarkan Adhitiana meraung-raung malam-malam di hari pernikahan Mas Arik, “HE…HE…” Membayangkannya saja membuatku merinding……hihihihi…..

by Wira: Hahaha… belum pernah dalam sejarah, anak angin dicakcak orang sebanjar. Kalau diteriakin mahasiswa sekampus, pernah sekali. Ada yang masih ingat kejadian ini? Suatu saat akan aku buat postingannya.

[Reply]

hehe.. Dosen saya.. hebat deh. :)

by Wira: Hah? Mas Arik jadi dosen juga ya? Tugas di Dinas Kesehatan juga kan? Wie sempet ngobrolin tentang angin ga? Kali aja langsung dikasi A…. ;)

[Reply]

seru asane puk..

by Wira: Seru san lah Doel… ;)

[Reply]

waw.. zaman itu udah ada Beritney Sepears ya? imajinasinya gantet emang melampaui zaman,hahaha=p

by Wira: Huahaha… begitulah Gantet, urusan yang begituan dia jagoannya. Selalu punya early edition…. ;)

[Reply]

haha.. iya.. di R.s sanglah.. pernah sy masukin majalah kampus tentang buku “Pulang Kampung” nya.. cuma blom bilang tuh klo anak Angin.. hahaha.. ide bagus! semoga A =p

by Wira: Hahaha… harus bilang tuh, trus sungkem, cuci kakinya Mas Ari’ pake air kembang tujuh bunga bidadari, dijamin nilainya lebih bagus dari A deh… :D

[Reply]

emmmm lagi ngebayangin nie bli wira ngibing,,Jogednya yang waktu itu goyangannya maut gak bli,????Aanak angin memang Top :D

by Wira: Hahaha… goyangannya sopan kok, tapi tetep aja menggairahkan… ;)

[Reply]

15 Jan 2009, 22:53
by Gantet


beh masak aku membayangkan britney spears pidan to ?
kayanya dia belum lekad jaman to.
masak aku belum punya OBSESI sndiri waktu itu?
ngesap……..
tp yg paling nikmat adalah malali sama anak angin malem2 sampe pagi (maklum msh kelas 1)
fotonya ada di lemari angin. lucu dech. lagi booming pose anjing (gaya barli). haahhh….hahhh………

by Wira: Obsesimu adalah A… A… A.. A… A… A… A…. Tapi akhirnya segera beralih ke E… E… E… E… E… E… E…. :D

[Reply]

Hm, dengan berbekal nama dr.Sthiraprana D, saya melangkah agak percaya diri ke ruang PD III untuk menghadap karena bolos 8 hari kuliah,,,
Hm, dr Ari ini juga kasi pengantar untuk buku “Jalan Angin”,,,

by Wira: Wuah… emang sakti Mas Ari’. Di kampus saya, bolos kuliah 8 hari langsung DO… [tapi bo'ong]

[Reply]

halo salam kenal ..
Dari kemaren2 aku search blognya Sthiraprana Duarsa, tapi kok banyak blog yang berkisah tentang buku bukunya. Saya sendiri belum pernah membaca puisi puisinya *cari dimana ya* he he

Saya baru belajar dunia perpuisian. Ingin lebih jauh mengenal. Saya juga orang Bali ..
Andai ada yang bisa membantu saya ..

Terimakasih

[Reply]

Wira Reply:

Salam kenal, Mbak Kuyus. Sthiraprana Duarsa beberapa waktu yang lalu telah meluncurkan antologi puisinya, “Pulang Kampung”. Coba deh dicari di toko-toko buku, Gramedia, Gunung Agung, atau Toga Mas. Atau ada kawan-kawan lain yang bisa membantu?

halo bu kuyus….salam dari pak gemus…..

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment