6 Jan 2009, 21:08
Puisi
by Wira


Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

[Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono]

aku mencintaimu

entah sederhana entah tidak
tak pernah kutakar
sebab memancar

by Wira: Cuit… cuit… mencintai siapa Jer? ;)

[Reply]

jd inget zaman masuk akademika. disuruh ngapalin sajak ini. hehe..

by Wira: Wah, yang nyuruh ngapalin pasti lagi sok romantis tuh…. [seperti saya sekarang, yang pinginnya sok romantis] ;)

[Reply]

dapet sms.. katanya ada puisi untuk saya.. eh masuk ke link ini.. haha =p
u’r so sweet like always.. :) [bukan bli wira loh y! hehe]

by Wira: Woi… yang memanfaatkan blog saya untuk romantis-romantisan, BAYAR! BAYAR! :D

[Reply]

puisi ini selalu jadi andalan Anak Angin yang “nembak” cewek/cowok pujaannya.

Istriku sempat ngambek, setelah tahu ideku memberikan puisi ini kepada dia, ternyata tidak orisinal. Barli memberikan puisi ini kepada Dewik, yang kemudian jadi istrinya. Dia makin ngambek, setelah aku ceritakan, bukan hanya aku dan Barli saja yang memakai “strategi” ini, tapi semua anak teater Angin…..hehehe……

by Wira: Hahaha… strategi yang juga dilakukan oleh pengirim komen yang paling atas, kepada pengirim komen nomor tiga dari atas. Mereka memanfaatkan blog ini sebagai sarana beromatis ria, gratis… dasar!

[Reply]

hehe, aku memberikan puisi itu dalam bentuk sudah dilagukan Bli, dasar anak angin sami mawon,hehe
tapi klo yg di komen paling atas itu original dr sy Bli, minjem space Blognya yaa, hahahahaha=p

by Wira: Bayar, Jer… Bayarrr!!!

[Reply]

*** clingak clinguk cari yang mau dikasiin puisi ini…

by Wira: Huahaha… yang mau dikasiin puisi udah jago bikin puisi sendiri… :D

[Reply]

wah, aku taunya puisi ini juga di akademika. sapa ya yang pertama kali share. lupa…

btw, tinggal di jl banteng? itu kan rmh ortuku. kenal pak ngah dagang soto?

by Wira: Huah… Pak Ngah dagang soto? Yang deket banjar itu ya? Tahu sih, tapi ga kenal. Mungkin Luhde tahu warungnya Pak Kumis a.k.a. Pak Raden… itu paman saya. Klo kita ktemu, mungkin saling kenal wajah kali ya…. ;)

[Reply]

huff, sajak yang indah untuk seorang yang indah pula…

by Wira: Yuhuuu… ada Rasti. Btw, saya curiga, jangan-jangan kemunculan Rasti ngomen di postingan ini, kasusnya serupa dengan taktiknya Jer terhadap Gungwie? Hihihi… ;) [Baca komen nomor 1, 3, 4, dan 5. Lalu jangan lupa baca yang nomor 6....]

[Reply]

wah, pertama kali kasi komen, udah dicurigai yang macem2…
hehe

by Wira: Hehe… curiganya cuma satu macem aja kok… peace, Rasti… ;)

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]