13 Nov 2008, 21:08
Drama Latihan PSR
by Wira


Oh, Kelinci

Eka Sucahya tidak hanya pencinta wanita. Dia pun pencinta binatang. Beberapa kali dia menyutradarai pementasan, tidak lupa menyertakan binatang sebagai aktor/aktris. Seperti halnya dalam Komidi Sebabak PSR 1996, Eka Sucahya ingin menghadirkan seekor kelinci untuk menemani Pak Dul, penggali kubur. Maka diutuslah beberapa anak angin untuk membeli kelinci di Pasar Burung, daerah Satrya. (Aneh ga sih, beli kelinci kok di pasar burung?)

Seekor kelinci putih yang lucu akhirnya berhasil diperoleh. Aku lupa, siapa nama yang kami berikan untuknya. Anggap saja si Manis. Sejak saat itu, jatah konsumsi kami mesti dipotong sedikit untuk membeli wortel dan kangkung buat si Manis. Karena si Manis akan menjadi soulmate ku dalam pementasan nanti, maka akulah yang bertanggung jawab atas keselamatannya. Tapi kelucuannya telah membuat semua orang menjadi gemas, dan selalu ingin menggendong.

“Hei… si Manis jangan dikeroyok dong! Liat tuh dia ketakutan. Ntar stress, mati lagi!” aku berteriak panik.

“Wah, biar ndak stress, mestinya dia dicariin temennya tuh.” seseorang memberikan usul.

“Kalau gitu, ayo kita ke Pasar Burung lagi…”

“Ga usah beli, aku punya kelinci di rumah. Kupinjemin deh….” Aprilianti tiba-tiba menyahut.

Maka diambillah kelinci belang milik Aprilianti sebagai teman si Manis. Si Belang jauh lebih besar dari si Manis. Tapi sungguh sayang, keesokan harinya tiba-tiba si Belang menghilang. Entah kemana. Semua sibuk mencari, tapi tidak ketahuan jejaknya. Akhirnya disimpulkan sepihak bahwa ada orang yang telah mencurinya, mungkin untuk dibuat sate. Si Manis sendiri lagi.

Di hari yang lain, seseorang mendapati kotoran si Manis berwarna kemerahan. Normalnya sih hitam.

“Hei lihat! Tainya si Manis merah!” teriaknya.

“Ha… ha… ha… mungkin gara-gara semalam aku kasi makan nasi goreng sisa.” aku berkomentar sambil ketawa-ketawa.

“Wira! Ini ndak lucu! Si Manis sakit tau! Makanya jangan ngasi makan yang aneh-aneh! Wortel dan kangkungnya kan masih ada!” Wahyu menghardik.

“Duh, maaf Yu. Aku ndak tau. Wong semalem dia lahap banget makan nasi gorengnya. Kupikir dia suka, dan ndak akan apa-apa. Maaf….” sesalku.

Tapi selebihnya, si Manis siap untuk pementasan. Di hari-h si Manis sukses memerankan tokohnya menemaniku. Kalau saja ada anugerah pemeran binatang terbaik, maka si Manis lah pemenangnya. Setelah pementasan usai, semua harus bersiap-siap kehilangan si Manis, karena dia akan diberikan kepada Aprilianti sebagai pengganti si Belang yang hilang.

NB: Maaf, aku tidak begitu yakin dengan ingatanku akan kisah ini. Jadi jangan begitu percaya. Yang jelas, kelinci yang hilang dan tai kemerahan memang benar-benar terjadi. Selebihnya, hanya bisa-bisanya aku merangkai cerita. :)

hehe, kelinci kok dikasi nasi goyeng Bli, favoritnya kan fuyung hay,wakaka
btw, pentas di PSR bersama hewan sy blum pernah, keren keren!

[Reply]

Wira Reply:

Kelincinya vegetarian, Jer. Ga suka fuyung hay dia. Kalau cap cay, mungkin. Hueheheh… Masak belum pernah mentas sama hewan? Wah, kutu-kutu di rambutmu bisa marah tuh, ga dianggep sama tuannya… hihihi….

Hahaha, yang ini aku masih ingat
Kelincinya April memang hilang, tapi beberapa hari kemudian saat semua yakin Kelinci ini sudah jadi sate tiba-tiba ia muncul dari belakang Pura.
Ternyata selama ini sudah menjadi survivor di SMANSA selama berhari-hari. Muncul dengan bulu dekil dan sudah menjadi liar a.k.a sulit untuk didekati.

Good story Wir, very well described
Ayo kita bikin kumpulan cerpen atau novel sekalian ;-)

[Reply]

Wira Reply:

Iya ya. Yang aku inget emang kelincinya si April itu dekil banget. Jadi dekilnya setelah berkelana berhari-hari ya, bukan emang dekil dari sononya? Hehehe, sory buat April klo kebetulan baca. Kumpulan cerpen ya? Ayo, ayo, ayo….

Waw.. PSR 1996.. diriku dmana y? haha
masi SD sepertinya.. :p
bli.. hebat sekali ya memikirkan perasaan si Kelinci, sampai mencarikan teman untuknya,, btw, Si Manis jenis kelamin, cewe’kah? haha

[Reply]

Wira Reply:

Duh, lupa nanya euy, jenis kelaminnya si Manis. Tapi mudah-mudahan aja cewek. Klo cowok, ih najis… masak saya peluk-pelukan ama cowok… jijik ah…. :)

ha..ha…lucu juga pentas sama kelinci, biasanya sih anjing kayak di film india itu lho…., Yang saya herankan kenapa mesti kelinci, ular mungkin lebih serem untuk sang penggali kubur..kalau kelinci sih orang bukannya takut malah rame-reme ke kuburan, sate..sate…sate ada yang jualan sate, satenya ue…nak tenan, atao mungkin sang sutradara memang punya pemikiran lain” mungkin bagus juga kalau sang penggali kubur punya kerjaan sambilan sebagai tukang sate kelinci..” hua..ha…ha..ha..

it just intemezo. apapun itu, ide kreatif sang kelinci patut dihargai..huebat sekali lagi heu..uubat.

[Reply]

Wira Reply:

Itu namanya keseimbangan Bli. Kuburan yang syerem diimbangi dengan kelinci yang lucu. Kayak konsep Rwa Bhinneda lah. Ada siang, ada malam. Ada baik, ada jahat. Ada serem, ada lucu. Begitu deh kira-kira.

Ketika SMP sempat tim 2 Sanggar Cipta Budaya menggunakan ayam sebagai properti dan sempat hampir terlepas. Memang seru menjadikan binatang sebagai bagian dari sebuah pementasan. Hanya saja perlu kiranya merekrut binatang jauh hari sebelum pentas agar sempat sedikit belajar olah tubuh, olah vokal atau hukum panggung lainnya… Ngolah manusia yang pernah sekolah aja susah…

(dap, mantan sutradara)

[Reply]

Wira Reply:

Tul Dap. Pernah juga anak angin gagal ketika ingin menghadirkan kucing di panggung, karena rekrutmen yang sangat mendadak. Kalau ga salah, naskahnya Komidi Sebabak juga, sutradaranya Eka Sucahya juga, tapi yang main Gantet dkk. Mainnya di Faksas Unud, kampus yang deket RS Sanglah itu. Begitu kucing dilepas di panggung, eh dia malah ngeloyor keluar tidak terkontrol….

aduh wir….
baca ceritamu jd inget masa latihan buat PSR….
kangen masa itu lg….

[Reply]

Wira Reply:

Aku nulis semua ini juga karena kangen sama angin. Mencoba mengobati rasa rindu dengan mengurai memori masa lalu.

kok di ceritamu, aku jadi galak gitu Wir? hehehe…… cerita soal Phala yang digigiti semut sampai bentol-bentol abis mancing di Buyan, udah kau masukin belum? hehehe….

[Reply]

Wira Reply:

Hahaha… di mata beberapa anak angin kamu memang galak Yu. Keturunan Anak Muda! Huahahah…. Poor Phala. Ngeri aku liat mukanya waktu itu. Tapi masak karena semut? Bukannya ulet bulu atau alergi apa gitu…. Suatu saat aku tulis deh, tapi aku agak samar-samar dengan memori itu. Kita pergi berempat bareng Jengki, atau ada yang lain ikut juga ya?

Phala, ingat aku disiksa 1 malaman di rumahnya hanya untuk ngubah logat baliku dengan 1 kalimat…..buat pementasan upssss….

[Reply]

Wira Reply:

Wah, kalimat apa itu Dhi? Kok aku ga tau ya?

upps, aku juga lupa. pokoknya aku disuruh mondar-mandir dengan gaya orang tua. pusing ngadapin phala…. yach anak bawang sich. eh ingat juga adegan di LDM faksas cuma bawa sepeda gayung tua ke pentas mondar mandir sebentar. Ngayuh sepeda tua dari rumah lumayan capek he..he…

[Reply]

Wira Reply:

Hehehe… lebih tepatnya gaya profesor, Dhi. Lalu kepalamu dicukur botak ala Einstein di rumah Dewandra. Hmm… LDM Faksas November 1994, angin main Djembatan Gondolayu, dapet juara 2, kalah sama Teater Hipocrates FK Unud.

12 Dec 2008, 21:43
by eka sucahya


hahahaha…
huahahahahahaha…

[Reply]

Wira Reply:

Huahahahahaha… btw, ngetawain apa Ka?

Oiya, pementasan “Djembatan Gondolayu” itu harus diceritakan Wir……

[Reply]

Wira Reply:

Iya, ada keinginan untuk menceritakan Djembatan Gondolayu. Tapi sayang, karena aku tidak terlibat langsung secara penuh dalam pementasan itu, aku tidak bisa merekam jiwa dan semangat para pemain dan pementasan secara utuh waktu itu. Mungkin suatu saat akan aku tulis di sini, tapi dari sudut pandang “anak kelas 1 yang baru pertama kali tahu yang namanya pementasan”. Yang aku ingat hanyalah semangat dari Mbak Mona yang bergerilya mengumpulkan tiket-tiket para penonton waktu itu, sehingga pementasan kita berhasil meraih penghargaan “Teater Favorit Penonton”. Hehehe… layaknya Indonesian Idol.

20 Dec 2008, 22:26
by adhitiana


ia. waktu itu cukur setengah botak, idenya si eka dan aku manut aja…dewandra juga senang tuch…seperti celuluk…sampe-sampe teman-teman pada takut and megang kepalaku apa beneran botak ato pake wig…ha..ha…..wahyu ato eka yang cerita dech buat jembatan gondolayu…hick…hick……

[Reply]

Wira Reply:

Iya, mengerikan sekali cukuranmu waktu itu. Pake nginep di rumahku segala setelah dicukur. Hiii… bangun pagi-pagi, melihat kepalamu, aku ketakutan sendiri… duh, apa yang telah kita lakukan terhadap temen kita yang satu ini… hiii….

21 Dec 2008, 11:36
by eka sucahya


itu yg ada adegan phala diusung setelah bunuh diri dr jembatan yak??

[Reply]

Wira Reply:

Yup, betul sekali Ka. Pemain utamanya kalau ga salah kamu, Marlina, sama Wahyu. Marlina kayaknya dapet penghargaan pemeran wanita terbaik.

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]