Anak Angin Menunggu Godot

Sudah lebih tiga bulan aku bernostalgia tentang angin dengan menuliskan kembali kilasan-kilasan memori yang masih samar tersimpan. Tiba-tiba saja, kemaren, ada dorongan yang begitu kuat untuk bernostalgia dengan cara yang lain. Aku ingin merasakan kembali suasana angin. Merasakan, dan tidak sekedar mengingat atau membayangkan. Satu-satunya cara adalah, dengan kembali berada di tengah-tengah suasana angin. Kebetulan aku mendapat informasi bahwa anak angin sedang dalam persiapan untuk menggelar Malam Apresiasi Sastra, MAS, pada tanggal 29 dan 30 Januari 2009. Normalnya, saat-saat ini, anak angin pasti sedang intens latihan. Kesempatan yang sangat tepat untuk mengunjungi mereka.

Sore menjelang malam, kemaren, aku meluncur menuju Smansa Denpasar. Hah! Aku sungguh berdebar. Serasa pulang kampung, setelah merantau sekian lama. Dan sungguh menyenangkan, ketika akhirnya aku benar-benar merasakan [kembali] suasana itu. Hiruk pikuk latihan. Teriakan kencang sutradara ketika pemain tidak melakukan hal yang diinginkannya. Para pemain yang bersungut karena begitu lelah untuk selalu mengulang adegan-adegan. Pengarah gaya yang berusaha memotivasi untuk mendapatkan gesture yang lebih luwes. Pelatih vokal dalam musikalisasi puisi yang tadinya merem tiba-tiba membelalakkan mata dan berteriak ketika terdengar suara bero. Sementara itu, tukang kayu bekerja untuk melengkapi setting panggung. Dan tukang lampu mencoba posisi yang tepat untuk mendapatkan pencahayaan yang optimal. Hmm… suasana ini, sungguh indah.

Di tengah kesibukan anak angin, aku berhasil menculik salah satu panitia MAS, yang aku tidak tahu namanya, dan dia enggan menyebutkan nama, ketika aku katakan akan mewawancarai dia tentang persiapan MAS untuk dimuat di teaterangin.com ini. [Anak-anak angin menyebut namanya, Jamet!]

“Tema MAS tahun ini adalah Kesenjangan Sosial, Bli.” katanya.

Yup, setelah aku perhatikan sekilas setting panggung yang baru setengah jadi, kesan kesenjangan sosial memang sangat terasa. Anak angin menghadirkan suasana kumuh, dan menyatukannya dengan kemewahan berupa teknologi canggih.

“MAS diselenggarakan selama dua hari, hari Kamis dan Jumat, 29 dan 30 Januari 2009, mulai jam tujuh malam sampai selesai. Hari pertama kita menghadirkan pementasan dari tamu undangan. Mereka adalah Teater Topeng [SMA 2 Denpasar], Teater Blabar [SMA 4 Denpasar], Teater Limas [SMA 5 Denpasar], Sanggar Kirana [SMA 6 Denpasar], Teater Wongkutus [SMA 8 Denpasar], Komunitas Patah Hati [Alumni Angin tahun 2005], Komunitas Barong [Alumni Angin tahun 2008], dan Anak Angin kelas tiga. Rata-rata mereka menampilkan musikalisasi puisi, kecuali Teater Topeng dengan monolog.

“Lalu anak angin sendiri akan tampil di hari kedua, yang sebagian besar akan menampilkan anak kelas satu, dibantu oleh beberapa anak kelas dua. Kami akan menampilkan pementasan drama, musikalisasi puisi, teaterisasi puisi, dan pemutaran film pendek. Tapi semua jenis pementasan tersebut tidak kami tampilkan sebagai pementasan yang parsial, melainkan sebuah pementasan utuh yang saling mendukung satu sama lain, satu cerita.”

Ketika aku menanyakan naskah apa yang dimainkan, aku sungguh terkejut ketika kemudian mendapat jawaban Menunggu Godot, dari Samuel Beckett. Gila! Naskah ini menurutku sungguh berat. Drama yang surealis dan absurd. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat, dan perwatakannya sangat jelas juga menonjol. Diperlukan pemain yang luar biasa untuk menjelma menjadi karakter-karakter tersebut. Dan anak angin berani mengambil tantangan itu! Sungguh luar biasa! Sebuah teater sekolah berani memainkan Menunggu Godot. Dan mereka melakukannya secara mandiri, tanpa melibatkan pelatih. Awalnya aku sempat khawatir, takut anak angin akan mengalami kegagalan. Tapi dengan reputasi mereka yang pernah menjuarai festival drama modern pelajar tingkat nasional, aku yakin anak angin akan tampil luar biasa, demi kepuasan pementasan, dan tentunya kepuasan penonton.

Menunggu Godot, adalah lambang penantian akan sesuatu yang tidak jelas. Naskah ini dibuat oleh Samuel Beckett di masa Perang Dunia II. Dua tokoh yang sedang menunggu Godot adalah Vladimir dan Estragon. Godot sendiri adalah sebuah sosok yang tidak jelas, apakah manusia, binatang, Tuhan, kebahagiaan, atau malah kesedihan. Terjadi banyak perdebatan dan konflik diantara kedua tokoh ini sementara mereka sedang menunggu. Tapi perdebatan ini hanyalah perdebatan tanpa hasil, tanpa diwujudkan dengan perbuatan nyata. Lalu, siapa Godot? Atau apa sebenarnya Godot? Kenapa kehadirannya begitu dinanti? Apakah Godot akan datang? Akankah Vladimir dan Estragon mendapatkan sesuatu dari Godot?

Melalui Menunggu Godot, anak angin yang saat ini diketuai Gung Wah ingin menyampaikan bahwa sejatinya hidup kita penuh dengan penantian. Menjadi kearifan masing-masing individu, apa yang sebaiknya kita lakukan selama menunggu, untuk mendapatkan “arti” dalam hidup ini. Sudah tidak sabar rasanya untuk menyaksikan Menunggu Godot garapan anak angin, dikemas dalam empat jenis pementasan, [drama - musikalisasi puisi - teaterisasi puisi - film pendek] yang ditampilkan dalam tema Kesenjangan Sosial. Ini adalah Menunggu Godot yang aku yakin sungguh berbeda dengan Menunggu Godot lainnya. Memang menjadi salah satu keahlian dari anak angin sejak jaman dulu, menampilkan sesuatu yang lain daripada yang lain. Jika Anda juga sedang menunggu godot, tidak ada salahnya Anda datang ke Aula Smansa Denpasar, Jalan Kamboja, Kreneng, pada tanggal 29 dan 30 Januari 2009, jam 7 malam, GRATIS. Bocoran dari panitia, jika Anda datang terlambat dan ternyata quota penonton sudah terpenuhi, ada kemungkinan Anda akan dilarang untuk ikut menonton. Jadi, datanglah tepat waktu, jangan melewatkan pementasan ini sekejap pun. Dan yakinlah, penantian Anda kali ini bukanlah penantian akan sesuatu yang tidak jelas, dan tidak akan berakhir dengan kesia-siaan.

aku bakal dateng untuk tmn2 angin…

by Wira: Yup, ditunggu kedatangannya. Pakai pakaian yang paling seksi, ya Ci… ;)

[Reply]

wah, preambule yg sangat sugestiv bli, membuat orang jd ingin datang menonton, dan bli wira paham betul kata2 utama menarik minat orang (di bold dengan huruf kapital pula) hwehwe.
akan banyak vladimir2 dan estragon2 datang krn kata itu,haha
btw, kawan BARAK ga tampil kah?

by Wira: Beh, kayakne sing keto Jer. Kalau rokok dan makan GRATIS, baru banyak yang tertarik. Ini? Pertunjukan teater gratis? Apa itu? Huh! Hahaha… :D Eh, BARAK? Kayaknya ga tampil deh. Kali karena ga ada bayarannya euy. BARAK kan profesional, mana mau tampil ga dibayar… hehe… bukan begitu “kah”?

[Reply]

yaaaaah… wie ga bisa datang.. Sedang Kerja Sosial di Karangasem..
salam untuk ANGINERS.. ^^

by Wira: Yaaaaah… selamat berkersos ria deh. Salam buat saudara-saudara saya di Karangasem ya….

[Reply]

MAS seharusnya menjadi event terbesar bagi anak2 angin..
karena dari sana lah awal angin mulai bekerja dan mengenali dunia teater ‘angin’ lebih dalam..
tak banyak anak angin yg terkena hempasan dari seleksi alam yg ketat.
yang gak kuat tentu saja akan lepas..
tapi suatu kebanggan tersendiri bagi anak angin yang bisa tetap aktif sampai tamat SMA…

by Wira: Yup! Selalu ada yang namanya seleksi alam. Dan tentu lebih membanggakan, jika bisa tetap aktif untuk selamanya. Seperti saya, yang sampai saat ini masih aktif… aktif menulis blog yang ga jelas! Huahaha…. :D

[Reply]

26 Jan 2009, 23:14
by eka sucahya


kl temen2 ada yg punya handycam..tolong di record dong..ok juga tuh kan kl di share disini..atau wira mau mengusahakan live view dgn ym atau skype?? jadi aku bisa nonton dr perth..jadi semacam tele-performance gitu lah..hehehehe..

by Wira: Wah, tele-performance… mungkin asyik. Coba nanti diusahakan…. ;)

[Reply]

wah, gimana kalo ntar ke Smansa lagi, katanya ada gladi lo?!

by Wira: Yup, sudah ada dalam jadwal saya tuh…. ;)

[Reply]

kusiapkan memori bergiga-giga…

by Wira: Siiip… Dadap emang top!

[Reply]

28 Jan 2009, 09:06
by techlink


Wah fitnah tuh BARAK main harus dengan bayaran :) Semua lagi sibuk mencari impiannya masing2, BARAK now on dormant state hingga waktu yang gak ditentukan…wakakakakakakaka

by Wira: Haha… blog ini emang sumber fitnah sepertinya…. :D Selamat ber-dormant state aja dah….

[Reply]

Hebat euy, Waiting for Godot…
Semakin matang bertheater, meski tuntutan akademis semakin tinggi
Salut buat anak-anak ANGIN Smansa.

Ternyata adik sepupuku (Si Arief, sekarang kelas tiga) lumayan juga jadi senior :-p .

Jangan lupa untuk para kelas tiga UAN sudah dekat, SPMB dan seleksi universitas juga kurang beberapa bulan lagi. Dispen boleh, bolos apalagi, begadang silakan, ngelayap ati-ati, tapi masa depan tetap nomer satu.
Hahaha, sok tua banget sih :-)

by Wira: Waduh? Sepupumu kelas tiga toh? Yang waktu kita dulu main ke Sudirman, masih sekecil upil? Haha… Arief dll, dengarkanlah petuah dari orang tua ini…. :D

[Reply]

Btw, badge angin aku taruh di blogku Wir. Link ke sini. Gak masalah toh kalo traffic visitor kesini meski bukan anginers ?
:-)

by Wira: Siiip… ga masalah. Mudah-mudahan aja ga malu-maluin….

[Reply]

Waduh.. Hari pertama kacek,.,
Dimmer q rusak2an..
Hari ini aq maen, tonton ya.??
Owh ya, nama q bayu., aq pmaen ktipung ma lighting..
aq adeknya ratih alumnus 2008..
salam kenal.,. ^_^

by Wira: Semangat, Bayu! Wah hebat, lighting merangkap ketipung. Berarti nanti pas main ketipung gelap-gelapan ya, karena lightingman nya lagi ga di tempat… ;)

[Reply]

hiks, sayang banget masih ada kerjaan lain. kalo tidak, aku pasti dateng. sekalian cuci mata liat abegeh. :D

by Wira: Wah, abegeh nya mantap-mantap lho Mas…. :D

[Reply]

tidak ada yang patut dibanggakan..
yah mungkin kepanitian lebih rapi, tapi segi pementasan tidak ada yang baru…

[Reply]

Wira Reply:

Mudah-mudahan nantinya bisa semakin matang… ;)

gmana review pementasannya wir? Ditunggu.

[Reply]

Wira Reply:

Silahkan klik di sini.

Godot yang ditunggu sungguh2 tak datang petang itu :(

[Reply]

Wira Reply:

Iya, padahal pingin banget ketemu sama Godot. Ayo, siapa yang mau buatin sekuelnya Menunggu Godot, mungkin judulnya: Kedatangan Godot?

hah, wah jangan2 Godot yang kita tunggu adalah orang yang sama?!

[Reply]

Wira Reply:

Eh, Godot itu orang toh? Bukannya makanan ya? Kan ada istilahnya tuh, godot embon, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kira-kira menjadi “pisang goreng dingin….” :D

wakakakaka,,,, kalo pisang goreng panas, terjemahan bahasa balinya apa ya?!

[Reply]

Wira Reply:

Kalau ponakan saya bilang… odoh… odoh… bus… bus…. :D

sing ngidang teka puk… padahal pengen banget nonton…

[Reply]

Wira Reply:

Beh, padahal mekejang ngantiang Doel puk…. ;)

kakak alumnus T.A jgn lupa jg untuk menyaksikan MAS 2010 . Pada tanggal 29,30 januari di aula SMAN 1 DPS :)

[Reply]

Wah ada lagi ya? mantap! Review dong!

[Reply]

5 Sep 2010, 03:25
by mugi lho


sangar ada websitenya baru tahu,,,,

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]