29 Jan 2009, 21:08
Tradisi
by Wira


Lalungiiin…!

[Mohon diperhatian. Tulisan berikut ini mengandung sedikit unsur jorok. Bagi yang tidak bisa berdamai dengan keterjorokan, harap jangan melanjutkan membaca. Terima kasih atas keperhatiannya....]

Lalungin, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi, “Telanjangiii…!” Entah sejak kapan tradisi ini mulai ada di kalangan anak angin. Yang jelas, semenjak pertama kali menginjakkan kaki di angin, aku sudah mendengar teriakan itu, “Lalungiiin…!” Dan sampai sekarang, setelah hampir dua belas tahun, kadang anak angin bertanya kepadaku ketika menyempatkan diri berkunjung, “Bli, jamannya Bli dulu udah ada lalung-lalungin belum?” Haha… tentu sudah. Cuma aku tidak pernah bilang, kalau jaman dulu malah alumni yang dilalungin. Hehe… kalau saja mereka tahu, mungkin aku akan jadi korban, lagi.

Seorang calon anggota teater angin, khususnya yang cowok, sepertinya belum bisa diterima keanggotaannya jika belum dilalungin. Hanya dibutuhkan kontak mata dari empat orang untuk mencari seorang korban pelalungan. Jika kontak mata ini sudah mencapai kesepakatan, satu orang akan mendekati korban, pura-pura mengajak ngobrol, lalu dengan sigap membekap korban dari belakang, merangkul kedua tangannya, berteriak, “LALUNGIIIN…!” Tiga yang lain dengan segera akan beraksi. Dua orang memegang masing-masing satu kaki korban yang meronta berusaha melepaskan diri, dan yang satu menggagahi celana korban, memeloroti, sampai terlihat celana dalamnya saja. Jika ingin lebih sadis, celana dan celana dalamnya mungkin akan digantung di tempat yang paling tinggi. Setelah dirasa cukup, korban dilepaskan dengan hanya menyisakan rasa malu sang korban dan tawa berkepanjangan dari semua yang hadir. Untuk para cewek yang kebetulan melihat, mungkin dengan segera akan menutup matanya dengan kedua tangan sambil berteriak sok histeris, seolah belum pernah melihat yang begituan.

Waktu aku kelas satu, empat tukang jagal itu adalah Phalayasa, Eka Sucahya, Wahyu Dhyatmika, dan Wahyu Landung. Tentu saja kami berlima [aku, Adhi, Ardita, Philips, Kardena] yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih kecil dari mereka tidak akan berdaya. Kami hanya bisa pasrah.

Pelalungan yang paling fenomenal di angkatanku adalah ketika ngelalungin Kardena. Tingkah lakunya yang agak kemayu telah membakar rasa penasaran para jagal. Hanya saja, ternyata sangat susah untuk nelanjangi Kardena. Meski kemayu, tenaganya begitu besar. Kardena meronta dengan begitu kuat. Empat tukang jagal membutuhkan bantuan dari kami. Ketika akhirnya Kardena berhasil dilalungin, dengan begitu gembira Phalayasa berteriak, “Haha! Punya! Dia punya! Kardena punya!!!” Hihi… sejak saat itu, tidak ada lagi yang meragukan kelaki-lakian Kardena. :D

Dilalungin ternyata tidak cukup sekali. Setiap saat ada saja setan lalung lewat. Maka setiap orang lalu memiliki mekanisme pertahanan dirinya masing-masing. Ardita, cukup dengan keahlian silat Perisai Diri-nya. Ketika gejala pelalungan akan menghampiri, maka dengan sigap, keluarlah jurus bangau mematuk ular dari Ardita.

Aku lain lagi. Metodeku adalah pertahanan berlapis. Sebelum datang ke latihan angin, tidak lupa aku memakai tiga celana. Celana dalam, celana pendek kolor bertali yang talinya aku ikat mati sangat erat, dan celana panjang dengan ikat pinggang yang susah dilepas. Ha! Setidaknya ini membuat perjuangan orang-orang untuk ngelalungin aku begitu berat, lalu kecapaian, dan tukang jagal hanya mendapatkan kegagalan. Tapi kadang-kadang kegigihan yang akhirnya mengalahkan pertahanan berlapisku.

Adhi, dicap paling jorok. Dia bagaikan pabrik dahak. Entah darimana datangnya, ludah Adhi selalu mengandung dahak. Maka ketika orang-orang mendekati dia untuk ngelalungin, Adhi cukup meludahi setiap orang. Hah, siapa berani mendekat, coba? Tapi Wahyu tidak kalah akal. Dia selalu bersenjata kain untuk mendekap mulut si Adhi.

Yang paling menyebalkan adalah Barli. Ketika dia menyadari orang-orang akan menjadikannya korban, maka dengan santainya dia berkata, “OK. OK. Kalian nggak usah repot-repot. Aku akan ngelalungin diriku sendiri.” Lalu dia memeloroti sendiri celananya. Ah, Barli memang kurang asyik diajak seru-seruan.

Tapi yang paling membuat syok adalah Philips. Pernah suatu ketika, Philips dilalungin. Entah sengaja atau tidak, saat itu Philips memakai celana dalam yang [mungkin] tidak dicuci selama sebulan. Phala dan Wahyu dibuat mabuk dengan bau yang luar biasa. Sejak saat itu, tidak ada yang mau ngelalungin Philips.

Oki memiliki pertahanan diri yang sama dengan Adhi, tapi kayaknya ga pake dahak, cuma enzim…
Ya, Tuhan, maafkanlah orang-orang yang pernah ngelalungin saya….

[Reply]

Wira Reply:

Haha! Ga rugi Oki jadi adiknya Adhi, walaupun cuma sepupuan. Tapi ternyata ilmu dahaknya belum diturunkan oleh Adhi… :D

31 Jan 2009, 09:33
by Gung Bo Wahyu Prasetya Psikopat_Lepass_ Believe It Or Not


Wah.. gak nyangka ada artikel brengsek ini…
Kalo sekarang agak lain, wira… kalo mau ngelalungin, harus ada satu surat keputusan turun dari ketua Teater Angin, dan Mafia yang melakukan penjagalan….
aduh berengsek, pertahanan berlapis tiga…. :D aku dah tahu ulang tahunmu juga wir… jam 9 malam lebih 8 menit, bukan? utak-atik ja angkanya… :D masi lama… just wait… kami juga akan menunggu SK turun… :D aku pernah dilalungin, saat itu kebetulan aku bawa celana cadangan…
di depan sekre, dah, begitu dilalungin, aku langsung ambil tas, ambil celana, kejar eksekutor, dapet balik. mana waktu itu KPA lagi ada acara di aula, lagi…
My pants, My life savers…

Salam…

Gungbo Wahyu Prasetya Psikopat_Lepass_ Believe It Or Not
31 Januari 2009 Pagi Hari Istirahat

[Reply]

Wira Reply:

Beh, kok kebanyakan prosedur kayaknya ya…. Klo mau ngelalungin, ya lalungin ajah. Ketuanya pun layak dilalungin kok…. ;)

Ikut cerita juga ah..
Masalah lalung melalungin ada kisah waktu pas Angin lomba drama ke semarang. Pas itu, kelas 2 dengan tidak sengaja membuat group yang dinamai ‘dementor’.
yah namanya juga kelas 2, jelas bisa berkuasa dengan seenak pantatnya.
diketuai oleh Gus de Ipod, para dementor mencari mangsa setiap saat.
yang paling lucu, ada satu mangsa bernama angga bujana. l.o.l
pelalungan oleh dementor ini beda dari yang lain. ada tema dari setiap pelalungan.
contohnya, saja angga bujana mendapat gelar manusia bus dan manusia lemari. untuk goib manusia odol. dan masih banyak gelar lainnya..

kalau dilihat lebih lanjut pelalungan yang dilakukan oleh dementor ini lebih bersifat menyenangkan. dan jelas tidak menegangkan..

[Reply]

Wira Reply:

Wuih, pelalungan semakin kreatif aja sepertinya… :)

ikutan jadi penonton saja :D

[Reply]

Wira Reply:

Nontonnya dari tempat yang jauh ya Bli… ;) Kadang penonton juga ikut dilalungin lho… :D

wah, pertanyaan saya malam itu terjawab sudah, hahaha:)

[Reply]

Wira Reply:

Eh, pertanyaan yang mana ya? Eh, malam yang mana sih? ;)

kayaknya Philips bukannya sengaja pake celana bau, malam itu, Wir. Celana dia memang bau setiap saat. hehehe…….. Pelalungan Eka Sucahya yang paling melelahkan. Perlu setidaknya 10 orang waktu itu ya Ka? hehehe……

[Reply]

Wira Reply:

Beh, jangan membunuh karakternya Philips dengan sadis begitu Yu. Anggap saja waktu itu dia memang sengaja… ;) Wah, klo Eka Sucahya emang paling susah tuh. Sampai kita ngimpor bala bantuan dari Surabaya pula, Agus dan Satrya, termasuk kakakku juga, dll.

raga sing taen melalungin… aget2.. hehhe…

[Reply]

Wira Reply:

Mimih… masak ada angin yang lolos dari jerat pelalungan? Jangan-jangan Doel punya ajian serat jiwa lampah lumpuh…. :D

26 Mar 2009, 00:09
by eka sucahya


iya..aku inget banget kalian begitu dendamnya pengen ngelalungin aku karena dalam berkali-kali percobaan gak pernah berhasil…samapi akhirnya aku dikeroyok sebanjar..hahahaha…satu duduk di tangan kanan..satu duduk di tangan kiri..satu duduk di kaki kanan..satu duduk di kaki kiri..dua orang duduk di perut..entah berapa orang yg berusaha jadi yg pertama buka resletingku…hehehehe dramatis bgt ya.. ;p

[Reply]

Wira Reply:

Haha… apapun caranya, yang penting puasss… ;)

kau suka main kaki sih, pake ilmu taekwondo… phala jadi suka kepancing emosi. hehehe…

[Reply]

Wira Reply:

Hah? Sucahya punya ilmu taekwondo? Ck… ck… ck….

28 Mar 2009, 21:00
by eka sucahya


hahahaha jangan bilang2 yu..nanti wira tambah takut sm aku..heheheh tradisi ini sempat dilihat sm temen2 sekelasku..trus entah bagaimana..mulai ada acara lalung2an di kelas…inget adhi gak yu..yg trus marah2 dan gak mau ngomong sm siapaun sebulan lebih gara2 pas kit alalungin dia pake cd warna merah…hehehehe

[Reply]

Wira Reply:

Haha…bukan Adhi Tiana kan?

*name

*e-mail

web site

leave a comment