4 Feb 2009, 10:41
MAS:
by gungbo


Pementasan dan Setelah MAS 2009

Ya.. teman-teman, perspektifku agaknya sama dengan para penonton… Hari pertama, keren… dilihat dari teater-teater yang tampil, pementasannya oke… Hanya BARONK yang membuatku terkesan diantara BARONK dan 69 (yang kutonton). Hari kedua… Aku ngikut (maunya nyikut) bli Wira “PTBN in 197 days and still counting”, begitulah… Karena kepuasan penonton adalah yang utama. Dan tiada penonton yang kulihat puas dengan Sementara Menunggu Godot karya kami. Melihatnya tidak membuatku puas meskipun Tentang Angin dilantunkan dengan salah oleh Kamillo, karena dia tidak hapal liriknya, mungkin (teruslah bertibus anginku kepakkan sayap peri mungilmu, tetaplah berhembup anginku alunkan nyanyian camar-camarmu (tidak se-menyimpang itu, tapi menyimpang juga)).

Setelah itu, aku mojok di belakang panggung, karena tidak puas melihat penonton yang tidak puas, lalu aku dipanggil ke depan oleh calon Bos Bali Barrel, to celebrate our first victory. Dia protes, “Gung Bo, ke depan! MAS sudah selesai!” Oke, aku menurut, karena dia calon Bos Bali Barrel. Lalu, aku ke depan dengan ketidakpuasan yang sangat seperti saat Angin kalah di lomba F. Poltek (nanti ada ceritanya). After celebration, we (alumni, members, and supervisors) gather into a circle to discuss our performance.

Komentar-komentarnya rata-rata memojokkan kami, yang pentas. Sehingga ada seorang pemain mengumpat, “Nah, ci be paling ebat” saat seseorang berkomentar. Diantara mereka tidak ada yang benar maupun salah, hanya pembelaan, dariku. Pengomentar membela penonton dan pengumpat membela pemain, menurutku. Setelah selesai kumpul, kami makan dulu, lalu berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing. Ada juga yang menginap.

Dilalungin juga ada. Paling pertama jamet/juni. Setelah makan, dia langsung dilalungin Mafia. Karena aku gak akan dilalungin, sampai minggu depan atau dua minggu lagi untuk saat ini, aku memilih untuk bantuin juni. Celana-celananya ditaruh Gung Wah di tempat sampah KPA MG. Alven the cunguh jambu juga, rasanya. Paling keras Surya Pradnyana a.k.a. Tembo, dilalungin sampai baju-bajunya. Bayu adiknya Ratih ikut memeriahkan suasana dengan memainkan pencahayaan sehingga aula seperti menjadi Blue Eyes. Memang dari wajahnya sudah terlihat kalau dia sengsara.

Ada juga yang tidak enak badan, tidur di sekretariat. Mungkin hanya itu yang kusadari hari ini pada hari itu.

Ada yang mau edit? e-mail ja aku di [email protected] atu cari aku bergerombol di kelasku, ruang pojok barat daya atas Smansa Denpasar.

Thanks review MAS dari sudut pandang pemain, Gungbo. Cuma maaf, saya edit sedikit pada bagian, “Nah, ci be paling ebat”. Wah, saya sangat menyayangkan ada kata-kata yang menurut saya tidak dewasa menerima masukan seperti itu. Saya juga sekalian minta maaf, jika ada komentar saya pada waktu itu yang menyakiti siapa pun. Hhh… saya jadi merasa agak takut untuk sekedar main-main ke angin lagi. Btw, tetap semangat! TOP!!!

[Reply]

Ohh.. Disunting, ya? Lain kali takkan kutulis nama buronan, untuk melindungi nama baik. Dan santailah bli Wira… Karena Operasi 2108 Malam masih lama… Mungkin akan menjadi cara kami untuk melakukan pelampiasan… Masih lama, jadi, bersabarlah dan sering-sering main ke Smansa kalau ada latihan Teater Angin Smansa…

Salam Angin,
Shallalwayslovetheatreoftheabsurd. LikeWaitingforGodot.

[Reply]

Wira Reply:

Wah, maaf Gungbo. Aku bukannya takut dengan mimpimu yang berencana untuk ngelalungin aku pas tanggal 21 Agustus 2009. Aku takut, ketika main ke angin, akan ada seseorang atau beberapa orang berbisik, “Nah, ini dia orang paling ebat sedunia datang!!!” Trus, orang-orang pada berkerubung untuk minta tanda tangan… TIDAKKK!!!

Ada komentar kaya’ gitu ya? Hmmmh, jadi menyesal nggak dateng waktu itu… jadinya nggak bener2 ngerasain suasananya… jadi nggak bisa benar2 berkomentar disini… tapi ada alasannya koq saya nggak dateng… Tapi memang seharusnya komentar ‘ci paling ebat’ itu sebaiknya tidak terlontar… Karena penonton memang paling ebat… karena saat itu dia jadi penonton… sama seperti saat kita jadi penonton sepakbola di tipi… PEACE! (yang seru)

[Reply]

Wira Reply:

Hehe… suasananya waktu itu masih biasa-biasa saja kok. Itu cuma bisikan seorang darah muda yang lagi capek banget. Saya juga baru tahu ada bisikan seperti itu dari tulisannya Gungbo ini. Btw, saya tidak setuju para pengomentar waktu itu dianalogikan dengan penonton sepak bola. Setidaknya para pengomentar berkomentar berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Tapi penonton sepak bola, biasanya sih emang ga pengalaman main bola yang bener… peace… [lirih]

saya cukup menikmati, menikmati jumpa dengan kawan lama, dan berbicara lepas dengan mereka… hehe

[Reply]

Wira Reply:

Eh, pantesan saya ndak menikmati pementasan… ternyata yang ribut-ribut ngobrol di sekitar saya itu Rasti toh…. :D

wah, saking ributnya saya sampai tak sadar ada penonton yang sedang serius menikmati pementasan, hehehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Sebenernya saya ndak sedang serius kok. Cuma pura-pura sok serius ajah… ;)

hehehehehe, maaf bwt para pengomentar yang saya analogikan sbg penonton bola, MAAF (dg tampang memelas), saya memang ga pengalaman main biola (eh bola) yang bener, menendang saja saya sulitt….Hhhh, seharusnya saya g main analogi, karena g smua analogi itu tepat…Maaf lagi. Cuma, maksud saya adalah; tugas penonton ya, emang menonton, mencerna, memberi penilaian, dan berkomentar, apalagi kalo diminta. Saya sadar tidak mudah untuk menerima sebuah komentar yang membuat prasasti usaha kita jadi minus. Percaya deh, saya juga pernah mengalaminya(saya jadi pengen nulis soal MAS saya dulu, perlu gak?). Jadi maaf, kalo komen ini bes lantang…PEACE lagi (tetep seru).

[Reply]

Wira Reply:

Haha. Mungkin itulah yang terjadi. Para pengomentar telah membuat prasasti usaha anak angin menjadi minus. Apalagi saya. Setelah memuji semangat anak angin setinggi langit, sekejap berikutnya, langsung membanting mereka ke tanah dengan keras. Mungkin cara membanting saya yang salah, yang dengan sombongnya mengatakan bahwa anak angin jaman dulu bisa melakukan perubahan berarti dalam sekejap. Memproduksi sebuah pementasan hanya dalam waktu tiga hari bukan masalah. Sementara saya melihat, MAS yang kemaren, rentang tiga hari dari gladi bersih menuju pementasan seperti tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hhh… memang paling menyakitkan kalau sudah dibanding-bandingkan. Tapi yang ingin saya katakan hanyalah, tidak ada kata menyerah, sampai titik darah penghabisan. So, boleh juga tuh, ditulis cerita-cerita MAS jaman dulu, ditunggu….

“tidak ada kata menyerah”
hayo2 siapa yang gampang menyerah belajar sama Bli WIra,!! hehe

[Reply]

Wira Reply:

Eh, saya hanya mantan guru komputer. Kalau ada yang mau belajar Word & Excel, boleh sama saya… ;)

hehe, saya daftar!

[Reply]

Wira Reply:

Uang pendaftarannya dikirim langsung ke rekening saya ya…. :D

Heh, ngomong-ngomong punya ngomong-ngomong… Masa ada yang percaya kalau ceritaku ini 100% nyata? Calon bos bali barel…
Tembo…
Alven…
Kamillo…

Semua hal itu hanyalah fiktif belaka, aku baru ngasi tau ni ke pengunjung situs karena aku di protes karena menyebarkan hal-hal yang tidak seharusnya ke media massa; ya, seseungguhnya, hanya melebih-lebihkan.

Bli wira, terima kasih telah menyensor nama itu, selanjutnya biarlah menjadi rahasia kita bertiga, yang berbicara dan mendengar.

Wira menulis: Wah, maaf Gungbo. Aku bukannya takut dengan mimpimu yang berencana untuk ngelalungin aku pas tanggal 21 Agustus 2009. Aku takut, ketika main ke angin, akan ada seseorang atau beberapa orang berbisik, “Nah, ini dia orang paling ebat sedunia datang!!!” Trus, orang-orang pada berkerubung untuk minta tanda tangan… TIDAKKK!!!

hati-hati, tanda tangannya ditaruh dimana nanti…

Nama tembo, aku cuma asal tulis nama. karena itu pikiranku yang paling awal terpikir ketika mengingat dia. Ditelanjangi sampai baju-bajunya? hanyalah sebuah tulisan yang berlebihan dari jemari-jemariku.

calon *** **** ******, asal kutulis karena ini cita-citanya di profilnya.

Alven, karena ngeliat dia aku jadi ingat rujak jambu.

Kamillo, Aku pikir aku adalah seorang pendengar yang baik, ternyata aku salah dengar, dan dia protes ke aku hari ini untuk dirinya dan teman-teman yang namanya disebutkan disini. Ah, aku dan dunia ini memang gila.

Bayu, aku ingat dia yang sok DJ karena mukanya mirip DJ & dia anak elektro, elektro’kan suka berhubungan dengan listrik? itu pikiran utamaku tentang aula mirip tempat dugem.

“nah ci be paling ebat”? hanya bisikan hati seseorang yang termuntahkan akibat tenaga yang telah habis hanya untuk sekadar menahan amarah. yang paling penting namanya telah menjadi rahasia.

Aku minta maaf dari hatiku yang terdalam kepada semua oknum yang telah disebutkan namanya atau disensor namanya dalam approval ini. Segini aja deh, kalau masih mau protes ayo cari aku.

salam!

“.itah aynup uka ayniadnaes”

-ungkapan bahasa kilabret, ada deh; yang tau bilang-bilang ke aku dulu secara pribadi-

[Reply]

Wira Reply:

Wuih… ini komen atau postingan ya… panjang banget! Gungbo, lain kali nulisnya jangan sambil mabuk, untuk menghindari protes dari kawan-kawanmu. Dan ah, Gungbo rupanya sudah menjadi KERA NGALAM, a.k.a. Arek Malang, “.kilabret taubid aynnasilut”

ah, sial, bahasaku dikenali!

ralat, kamillo tidak menyanyikan lagu itu! aku salah dengar! apalagi selesai MAS ada dua angkatan yang lelah! Kamillo, kau baca komenku, bukan? tidak seperti tulisan wira diatas, aku salah dengar! Oke? aku sedang dalam keadaan emosi yang gawat ketika menulis ini, tapi bukan mabuk! Apa lagi tu arek malang?

aku mengagetkan diriku sendiri dengan melihat (bukan membaca) komenku, emang panjang, sangat.

salam,

“.itah aynup hadus uka”
-anak angin tu kreatif, bisa buat bahasa baru, contohnya bahasa kilabret-

[Reply]

Wira Reply:

Jelas ini sama sekali ndak kreatif. Bahasa kebolak-balik itu sudah dipatenkan oleh arek-arek Malang….

Gung Bo, kalau ada temen2 Angin yang tidak sreg dengan review-mu, suruh aja comment di sini. jangan ngomong di belakang. Kita diskusi dan sharing di sini.

Seperti yang kau sendiri sudah tulis: tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semuanya belajar menjadi lebih baik.

[Reply]

Wira Reply:

Yup, ayo anak-anak angin, jika ada yang ingin didiskusikan dan dishare, dipersilahkeun….

kalo saya nulis perspektif dari penonton yang asyik ngobrol kemudian hujan-hujan ke lobi depan, boleh ga?
hehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Wah, boleh banget tuh… ditunggu. :)

argh… aku menyesal ga bisa dateng…

[Reply]

Wira Reply:

Sayang sing teka. Yah, setidaknya kalau Doel datang, ada bala bantuan untuk “membantai” pementasan anak angin… hehe…. ;)

wahwah berarti saya harus cerita topik obrolan cewe yang itu itu saja
hmm, saya juga harus cerita latar belakang ujan-ujanan ke lobi depan..

cerita lain sajalah yang nanti saya bagikan, hehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Iya iya, ayo bagi-bagi ceritaaa… ngegosip kita…. ;)

wew, aku baru baca lagi halamanku ini,

sori wir, tentang bahasa kebalik-balik tu, aku gak tau klo udah ada yang make, sumpah, jadi, karena lagi bosen mau nulis apa, aku nulis itu… tanpa sedikitpun kesengajaan untuk pembajakan bahasa.

Katanya bli wahyu (wahyu kok manggil wahyu? lo? apalah) juga, kurasa masuk akal. coba kuminta mereka untuk menulis seandainya mereka memiliki suara untuk disuarakan.

[Reply]

Wira Reply:

Yah, ayo disuarakan suaranya….

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]