26 Feb 2009, 21:08
Drama PSR Person
by Wira


Profesor Adhi

PSR tahun 1995, waktu aku masih kelas satu, salah satu group angin memainkan drama Kisah Cinta dan Lain-lain (KCDLL) yang disutradarai oleh Phalayasa. Dalam naskah tersebut terdapat tokoh Profesor. Jika saja KCDLL kita mainkan saat ini, maka yang paling pantas untuk memerankan tokoh Profesor itu adalah aku sendiri, -selain Gantet tentunya- mengingat kondisi rambut di kepalaku yang sudah menipis layaknya seorang profesor. Tapi, 14 tahun lalu, Phalayasa menjatuhkan pilihannya pada Adhi Tiana sebagai sang Profesor.

Suatu sore, setelah latihan KCDLL berakhir, anak-anak angin diundang oleh Dewandra untuk makan malam di rumahnya. Tanpa malu-malu, dan tentu saja dengan sangat bersemangat, kita mau menerima undangan itu. Dewandra bukan anak angin, dia adalah anak KISS-1 yang lumayan dekat dengan beberapa anak angin. Istilahnya Eka Sucahya, Dewandra bagaikan gudang logistik angin, karena kebaikannya yang seringkali memanjakan anak-anak angin dengan makanan.

Setelah makan malam yang mewah, kita duduk santai di beranda sambil ngobrol. Phalayasa memberikan evaluasi singkatnya mengenai kemajuan latihan KCDLL. Menurut Phala, beberapa pemain belum bisa masuk ke karakter tokoh seperti yang dia inginkan, salah satunya yang disorot adalah Adhi Tiana. Lalu, entah ide dari siapa, mungkin Phala sendiri, mungkin Wahyu Dhyatmika, atau bisa jadi Dewandra, “Supaya Adhi bisa lebih menghayati peran profesor, kita harus membuatnya benar-benar tampak seperti profesor, misalnya dengan cara cukur rambut botak ala profesor. Bagian depan dan atas batok kepalanya dikuris habis, dan sisakan bagian pinggir kiri kanan dan belakang….”

Dhuarrr! Meledaklah tawa kawan-kawan mendengar ide sambil lalu ini. Membayangkan Adhi dicukur ala profesor, sungguh sangat menggelikan. Tentu saja kita tidak terlalu menyeriusi ide ini, dan hanya menganggapnya sebagai sebuah intermezo penggugah tawa. Tapi tiba-tiba, Adhi bersuara dengan cukup mantap, “OK, aku bersedia dibotak ala profesor….”

Sejenak, hening, semua saling pandang. Lalu tertawa lagi. Ketika Adhi menyatakan sekali lagi keseriusannya, kita masih tetap tertawa. Lalu Dewandra, seolah tidak ingin Adhi berubah pikiran, bertindak sigap dengan segera memanggil seorang pegawainya yang ahli mencukur untuk menyiapkan alat-alat dan langsung beraksi. Maka, malam itu, terjadilah, prosesi upacara pelantikan Profesor Adhi dengan membotak batoknya. Selama prosesi, semua tertawa. Hanya si tukang cukur yang tidak bisa tertawa lepas, terlihat kikuk, seolah merasa sangat bersalah dalam melaksanakan tugasnya. Aku tidak ingat bagaimana roman muka Adhi saat itu, aku tidak ingat apa dia ikut tertawa, aku juga lupa menanyakan bagaimana perasaannya waktu itu. Dalam hitungan beberapa menit, Adhi sudah terlihat seperti Albert Einstein. Dan kita masih tertawa.

Malam itu Adhi menginap di rumahku. Rasa lelah membuat kami langsung tertidur. Pagi keesokan harinya, aku sungguh syok. Semalam Adhi masih terlihat seganteng Einstein. Tapi pagi itu, aku begitu ngeri melihat kepalanya. Sudah tampak seperti celuluk, makhluk jadi-jadian ala Bali yang menyeramkan.

Aku tidak ingat, berapa hari Adhi harus menyembunyikan kepalanya terbungkus topi, demi sebuah surprise, sebelum tiba saat pementasan. Kawan-kawan yang tidak hadir di rumah Dewandra tentu saja tidak tahu. Aku sendiri melewatkan hari-hari itu dengan sedikit rasa bersalah, karena merasa ikut andil dalam merusak kegantengan Adhi, yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Syukurlah pementasan segera berakhir, dan evaluasi kita tutup dengan prosesi pembotakan habis kepala Adhi. Adhi memang gila. Kegilaannya membuat dia berusaha total dalam melakukan apapun. Salut!

Ide Dewandra.

[Reply]

Wira Reply:

Singkat, tepat, jelas. Selamat datang, Phala.

ada fotonya gak?

[Reply]

Wira Reply:

Ada dong, di salah satu album foto lawasnya angin. Mudah-mudahan ndak ilang….

Dibotakin? Aku sih ngikutin naskah & pelatih aja sih. Tapi tetep to my extent. Albumnya tu ada (exist) ‘kan, seingatmu? mungkin akan kucari soalnya sekre baru ja rapi. (dengan sangat hina kusebutkan) semoga bisa ketemu… penasaran sebotak apa…

[Reply]

Wira Reply:

Ada, pokoknya pernah ada. Cari sampai ketemu!

Hahaha, sang jerawat super vulcano Adhi Tiana
Berarti dua kali dong adhi botak. Karena jamanku Adhi juga rela dipotong sesuai dengan garis topi. Cuma aku lupa yang kedua peran apa

[Reply]

Wira Reply:

Wah, kalau yang itu kayaknya dalam rangka Barli ngerjain si Adhi, haha…. Waktu diminta nyukur Adhi, si Barli dengan seenaknya nyukur ala kau, a.k.a. tempurung kelapa. :D

wah bener2,,,
salut sama pengorbanannya!!!

[Reply]

Wira Reply:

Haha… bukan pengorbanan, tapi dikorbankan…. :D Btw, kemana aja Rast? Tumben nongol lagi, biasanya rajin berkunjung di sini… haha… welcome back aja deh…. ;)

malam itu, rasanya tampang Adhi memang tidak banyak berubah. Besoknya, iiiih….jadi menyedihkan. Benar kata Wira, seperti celuluk. Wakakakak…….

[Reply]

Phala! Selamat datang!

[Reply]

Salam Teater Angin :)

Hmm..mengenang PSR 1995. Kalau aku, yang paling kuingat, aku yang jadi juara waktu itu hehehe

Salam Teater Tiga ^_^

[Reply]

Wira Reply:

Wah, ada kunjungan dari Teater Tiga! Selamat datang, Mbak Ratna. Ratna Hidayati memang pemain teater yang sangat berkarakter. Ndak heran kalau PSR 1995 berhasil menjadi pemeran wanita terbaik. Salam.

hehehe, anggap saja saya baru sembuh dari sakit, jadi baru bisa berkunjung…

wah, dikorbankan??
ckckck, mantapmantap!!!
:)

[Reply]

Wira Reply:

Ah, maafkan saya karena tidak sempat mengunjungi Rasti waktu sakit. Anggap saja saya tidak tahu… ;)

halo Ratna! thanks for stopping by.

[Reply]

4 Mar 2009, 16:38
by sukada


saingannya wahyu ya pas sma

[Reply]

Wira Reply:

Lebih tepatnya lagi, saingannya Phala. Sejak SMP malah. ;)

Asli, saingannya Wahyu pas SMA. Syurlah di pementasan terakhirku waktu SMA itu aku bisa jadi pemeran wanita dan sutradara terbaik hehehe

Kalau tahu apa yang terjadi di balik pementasan 95 itu, pasti terbahak-bahak. Aku lupa semua dialog saat gladi resik! Cerita selengkapnya ada di http://erhanana.multiply.com/journal/item/26/Kangen

Salam buat semua. Nggak pentas lagi? :)

[Reply]

Wira Reply:

Iya ya, kapan kita bisa mentas lagi ya? Tapi klo Mbak Ratna mau pentas, inget ngundang anak-anak angin ya. Kita pasti nonton deh….

5 Mar 2009, 12:59
by sukada


saingan atau obsesi :)

[Reply]

Wira Reply:

Haha… untuk yang ini, silahkan tanya langsung ke Phala dan Ratna. Saya ndak tahu…. ;)

wah, kalau ketemu Bli Phala, akan saya tanyakan soal itu Bli WIra… (merujuk pada komen di atas)
hehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Haha… iya. Bilang ke Phala, dia dapet salam dari Ratna Hidayati. Bukan begitu Mbak Ratna? ;)

weis! Mantep! absurd!!!

[Reply]

Wira Reply:

Ah? Apanne absurd nah? ;)

hehe, gimana ya ekspresinya Bli Phala?!
:)

[Reply]

Wira Reply:

Wah, itu yang harus Rasti kasi tau nanti ke kita-kita. Tapi sepertinya sih, dia akan ngotot bilang ndak pernah tahu yang namanya Ratna… haha….

7 Mar 2009, 12:53
by adhitiana


sori mare join buin… kayaknya aku pernah ketemu phala 1 bulan lalu di renon, rambutnya gondrong… tapi ragu ketemu…. yach untungnya nyukurnya nggaa di setra.. he4x

[Reply]

Wira Reply:

Haha… ini dia tokoh utama kita datang. Welcome back, Adhi….

hahaha, ternyata kita punya pikiran yang sama..

Wah, salut sama tokoh utama yang komen di atas saya, hehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Pikiran yang sama ya? Tentang reaksi Phala? Ayo segera dibuktikan sahaja…. ;)

yup, ternyata kita ga salah, Bli Wir, hehehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Huahahaha… sudah tidak diragukan lagi, memang begitu adanya. Entah Phala emang sudah terlalu tua, atau dia hanya pura-pura sok tua…. :D

15 Mar 2009, 04:43
by ganteto


ratna teater 3…..? bentar……bentar….
waktu beliau ini mentas, ada satu adegan yg cukup “menarik”, yang cukup membuat aku segera berlari ke depan panggung biar bisa melihat adegan menarik ini dengan sangat dekat

…..ah, sudah lah…….

[Reply]

Wira Reply:

Kamu salah Tet, adegan menarik yang kamu maksud jelas tidak diperankan oleh Ratna. Ratna udah tamat waktu kamu masuk SMA….

>>Huahahaha… sudah tidak diragukan lagi,
>>memang begitu adanya. Entah Phala emang sudah
>>terlalu tua, atau dia hanya pura-pura sok tua….

Pura-pura sok tua. Soalnya dia sempat baca komentar kalian berdua sebelum malamnya bertemu dengan Rastiti.

Ada yang mau lihat foto Rastiti dipelototin orang Jerman saat baca puisi? Wira pasti mau. :)

[Reply]

Wira Reply:

Wah, Rast, kita udah dikerjain sama Phala….

Ah, foto Rasti dipelototin? Ayo kirim ke emailku Phal!

kemana manusia aneh itu sekarang ya? apa kepalanya tambah plontos kayak wira?

[Reply]

kalian tetep aja kembali bikin vi bisa ketawa lagi(bahkan ngakak malah). Kak Adhi apa kabar? Lama banget kita gak ketemu.
Untuk Phala, vi baru tahu kau pernah jadi sutradara dan punya obsesi… he..he.. salut. Kapan lagi???
Hei, jika tiba-tiba kalian mentas lagi tolong kabari vi ya.

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]