12 Mar 2009, 23:52
Kuliner Tradisi
by Wira


Kumbasari

Mencari nasi jinggo di Kota Denpasar, saat ini begitu mudah. Sore sampai malam, bahkan menjelang pagi, hampir di setiap ruas jalan kita bisa menemukan penjual nasi campur minimalis dibungkus daun pisang, yang dihargai Rp 1.500 - Rp 2.500 per bungkus. Tahun 90-an, nasi jinggo identik dengan Kumbasari. Sepertinya saat itu nasi jinggo hanya dijual di sana, atau setidaknya, di Kumbasari yang paling terkenal. Lokasinya di sebuah gang pinggir Jalan Gajah Mada, seberang pintu masuk ke Pasar Kumbasari.

Kumbasari adalah salah satu tempat nongkrong favorit anak-anak angin tahun 90-an. Orang-orang menyangka, anak-anak angin ke Kumbasari untuk menikmati nasi jinggo. Mereka salah. Orang-orang yang mencari makan di Kumbasari pada malam hari memang biasanya menyasar nasi jinggo. Tapi karena anak angin berbeda daripada yang lain, maka kita juga punya tongkrongan lain. Warung soto babad Kumbasari. Letaknya di tengah pasar, di salah satu pojokan, sebelah barat laut. Yang punya seorang Ibu, kadang dia dibantu oleh suaminya, kadang juga dibantu anaknya yang manis, kita memanggilnya Mbok Nyoman. Ada juga dua orang pembantu lainnya, sepasang pria wanita yang sedikit tuna wicara, kolok, kalau orang Bali bilang.

Menu utama di warung ini memang soto babad. Tapi ada juga menu lainnya, seperti nasi bungkus, mie rebus, dan lain-lain. Ibu tukang warung selalu gembira jika anak-anak angin yang datang. Dia akan menyambut kita, “Ayo anak-anak, hari ini pecahkan rekor!” Haha… kita memang selalu mencatat total pembayaran kita untuk sekali makan, dan mengingat-ngingat total pembayaran di hari-hari sebelumnya. Jika hari itu kita bayar lebih banyak dari kemarin-kemarin, maka kita gembira karena sudah memecahkan rekor pembayaran. Tentu saja yang lebih bergembira adalah si ibu, semakin kita memecahkan rekor, semakin kaya dia. Seingat saya, rekor kita adalah sekitar Rp 60.000, yang jika dikonversi dengan keadaan sekarang, mungkin sekitar Rp 500.000. Dasar perhitungannya adalah perbandingan harga nasi goreng Ratna jaman dulu dan sekarang, 600:5000.

Daya tarik lain dari warung soto babad Kumbasari adalah Mbok Nyoman. Kadang-kadang, jika datang tidak terlalu malam, dan sedang beruntung, maka kita akan dilayani oleh Mbok Nyoman yang manis. Gantet dan Dogler yang biasanya paling senang menggoda. Mereka akan memesan susu, dan jika segelas susu sudah dihidangkan oleh Mbok Nyoman, dengan tampang sok terkejut mereka akan bilang, “Lho? Kok susu begini yang dibawain?” Mbok Nyoman, dengan sok polos, akan menjawab, sambil mengerling nakal, “Lalu, maunya susu apa?” Dan kita semua akan tertawa terkekeh-kekeh.

Ada lagi yang menggelikan dari warung ini. Dua pelayan kolok, pria dan wanita. Kalau mereka berpacaran, atau malah menikah, mungkin akan menjadi pasangan yang paling unik. Tapi yang lebih sering terlihat adalah, mereka selalu bertengkar satu sama lain, dengan bahasa yang tidak begitu kita mengerti. Tapi dari mimik muka mereka, kita tahu mereka sedang bertengkar. Orang-orang pasar akan semakin menggoda mereka, dan itu menjadi hiburan yang lumayan menghilangkan stress.

Si pria kolok biasanya senang melayani anak-anak angin. Dengan mimik yang sangat gembira, dia akan menawarkan air putih kepada setiap anak angin, dengan bahasanya, “Yeh pucih, yeh pucih….” Atau, jika kita memesan mie rebus, dia akan berteriak dari pinggir kompor, “Ayuh? Ayuh?” Semula kita kebingungan, dan saling mengerutkan kening. Seolah mengerti kebingungan kita, dia akan mengulangi teriakannya, dengan kali ini sambil mengacung-acungkan seikat sayur hijau.

Khusus untuk membuat tulisan ini, beberapa hari yang lalu saya sempat survey ke Pasar Kumbasari, sekedar menyaksikan suasana masa kini, setelah sekitar 12 tahun. Ada juga sedikit harapan, semoga warung soto babad itu masih ada di tempatnya. Tapi saya begitu terkejut dan kebingungan setelah tiba di TKP. Saya tidak begitu mengenali lagi daerah itu. Areal pasar yang dulu masih becek, sekarang sudah dikeramik, dan terlihat lebih mewah. Warung soto babad yang dulu terletak di pojokan barat laut sudah tidak ada. Ada terlihat kumpulan warung, termasuk warung soto babad, di pinggiran timur. Tapi saya tidak mengenali wajah-wajah penjualnya.

Mohon maaf, tulisan kali ini agak telat diposting beberapa jam. Itu bukan karena tulisan tentang kejenuhan yang saya posting sebelumnya. Tulisan ini sebenernya sudah jadi tadi sore sekitar jam 4 WIB, pada saat saya menunggu di Bandara Cengkareng, menuju Hang Nadim, Batam. Saya baru menemukan koneksi internet, dan akhirnya memiliki kesempatan untuk memposting, beberapa jam setelah mendarat di Hang Nadim, di Hotel Goodway, Nagoya.

[Reply]

Soto babadnya memang maknyusss Bli! wahahaha..

wow.. Trip kmana niiy? hV fun :)

[Reply]

Wira Reply:

Hah? Kok tau sotonya maknyusss? Hehe… trip-nya so close to S’pore, tapi tidak membekali diri dengan passport. Ndak bisa mengunjungi Sukada si bapak teaterangin dot com deh…. :(

Masih inget wira ngambul…waktu ultah wira traktir kami, karena ditunggu lama sing teka, maka kami mulai order dan makan soto duluan….mankenye Wire ngambul he he he…met ultah wir.

[Reply]

Wira Reply:

Haha… maaf, waktu itu aku lagi mens, jadi gampang emosian…. ;)

14 Mar 2009, 10:18
by adhitiana


inget masuknya dari gang kecil di sebelahnya….aduh benar2x…. jadi catatan hidup yang tak terlupakan… ngomong2x philip kayaknya dulu pernah juga ke kumbasari ya… apa cewek itu salah satu obsesinya he4x…

[Reply]

Wira Reply:

Iya, Phillips pernah satu kali, trus dikerjain sama Wahyu. Beh, kayakne waktu itu Mbok Nyoman ndak ada, jadi tidak tertangkap radarnya Phillips….

horeeeeeeeeeeeeeeeeeee, oleh-oleh!!!

:)

[Reply]

Wira Reply:

Oleh-oleh? Soto babad?

selama persiapan ujian, malem2 masih nongkrong di lab kampus, cuma nasi djenggo yang paling setia menemani, hehe :)

[Reply]

Wira Reply:

Wah, nasi jinggo? Mending soto babad ajah, panas-panas maknyus….

15 Mar 2009, 04:25
by ganteto


masak aku sich yg sering menggoda ?
gek, jgn kau baca postingan ini ya hehe

satu yg kau lupa, hampir trjadi pertumpahan darah disana (tragedi jenky).
Tiang nakk…..kete (gagap)

btw, tetep mbok nyoman emang hottttttt
mungkin kalo jaman sekarang bisa disamakan dgn luna maya-nya kumbasari

[Reply]

Wira Reply:

Tuh kan Gek, Gantet itu memang begitu. Masak Mbok Nyoman dibilang hot? Ndak dulu, ndak sekarang, dia memang suka godain cewek. Hati-hati ya Gek…. :D

di sana ada soto babad ya?!
:)

[Reply]

Wira Reply:

Di Kumbasari? Ada! :D

waaah, tulisane bikin ngiler. apalagi kalo sampe diajak makan2 ke sana. hehe..

btw, lagi di nagoya? jauh amat..

[Reply]

Wira Reply:

Wah, Mas Anton masih doyan soto babad? Bukannya udah kenyang makan soto sapi di Jalan Banteng? Hehe….
Haha… Nagoya-nya di Batam, Mas. Tapi udah di Denpasar sekarang, balik Minggu malam.

Angkatan saya, tamatan 2001, kayaknya yang terakhir meneruskan tradisi makan soto babad di kumbasari, dan saya ndak ingat itu waktu saya kelas 1 ato 2. Itupun memang diajak oleh angkatannya kojek (’99), gantet (’98) dan wira (’97). Biasanya saat mereka ngumpul2 pas liburan (mereka kan kuliah di luar bali) ato kalo ada yang ultah. Sotonya emang maknyus, suasananya juga, lagipula ada menu minuman yang tidak pernah saya temui di tempat lain sebelumnya, es susu soda, enakk. Trus seingat saya, saya pernah diajak kesana, tetapi ibunya sedang ndak jualan, cuman ada bapaknya (mbok nyoman?… saya tidak ingat) trus katanya ibunya lagi sakit, disakitin ama orang, biasalah, persaingan antar pedagang, katanya… dan sejak saat itu saya tidak pernah lagi kesana… kadang emang kangen siy…

[Reply]

Wira Reply:

Si ibu memang mulai sakit-sakitan sejak akhir 1996, dan sekarang sudah meninggal. Meninggalnya mungkin sekitar tahun 1998 atau 1999, lupa. Akan diceritakan di postingan berikutnya.

yaaaaaaaaaaaaaaaaah,,,,

gpp dah oleh2nya soto babad di kumbasari
:)

[Reply]

Wira Reply:

Ayo… ayo… ke Kumbasari….

hehehehe….ngakak baca ini. terutama di “yeh pucih” dan “ayuh…ayuh”…. soalnya Gantet kadang2 suka kirim SMS gak jelas tengah malem. Isinya pendek, “Yeh pucih?” hehehe….

[Reply]

Wira Reply:

Gantet yang kesepian…. Nganten gen kamu jak Gek-mu muh….

“Ti..ti…ti..ang … nak ten sengaja…….”

Adi mare ngorang? Sing uling tuni?

“Ti..ti..tiang..nak kete…”

[Reply]

Wira Reply:

Salah Yu… dialognya ndak seperti itu. Tunggu ntar di postingan berikutnya….

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]