19 Mar 2009, 21:08
Journey Kuliner
by Wira


Kumbasari, Lagi

Ada banyak kejadian yang pernah kita lewati di warung soto babad Kumbasari, tempat nongkrong favorit anak angin tahun 90-an. Berikut beberapa moment yang masih teringat.

Wira ngambul, ngambek. Saat itu, mungkin sekitar Agustus 1995 atau 1996, lupa. Yang jelas deket-deket ulang tahunku. Ceritanya, aku ditodong oleh kawan-kawan untuk traktiran soto babad. Maka malam itu kita janjian ketemu di Kumbasari. Berhubung aku tidak punya motor, maka seseorang ditugaskan untuk menjemput, entah Adhi atau Gantet, aku lupa. Lama menunggu, si penjemput tak kunjung datang.

Karena keterlambatan penjemput, akupun tiba di Kumbasari sangat terlambat. Dan sialnya, begitu tiba, aku mendapati kawan-kawan yang lain sudah pada makan, bahkan ada yang siap-siap untuk nambah. Entah kenapa, tiba-tiba aku menjadi sangat kesal. Mungkin saat itu aku lagi menstruasi. :D Sebenernya bukan karakterku seperti itu, yang dengan mudahnya kesel hanya karena hal sepele, ditinggal makan duluan. Tapi itulah yang terjadi. Dengan muka yang sok dicemberut-cemberutin, aku memesan soto, lalu makan dalam diam. Hahaha….

Phillips kepedasan. Suatu malam, Phillips yang biasanya susah mendapat ijin dari Ibunda untuk hang out, tumben ikut nongkrong di Kumbasari. Maka moment ini tidak disia-siakan oleh Wahyu. Bak seorang pelayan, Wahyu melayani Tuanku Raja Baginda Phillips. Memesankan seporsi nasi soto babad, plus minuman, mengambilkan krupuk, dan mencoba melayani segala kebutuhan Phillips. Ternyata, Wahyu hanya berniat mengerjai Phillips.

“Phillips, pake sambel berapa sendok nih?” kata Wahyu sambil tangannya mulai menyendok sambel.

“Oh, terima kasih Yu. Ndak usah, ndak usah. Aku ndak suka pedes.”

“Aaah… ndak enak lho, kalau ndak pake sambel….” kata Wahyu sambil menuangkan sesendok kecil sambel ke mangkuk soto Phillips.

Phillips hanya bisa pasrah.

“Tambah lagi sambelnya ya?” kembali Wahyu bersiap menyendok sambel.

“Ah, cukup Yu. Cukup. Ndak usah….”

Tapi dengan cueknya Wahyu menuangkan sesendok sambel lagi ke mangkuk soto Phillips, demikian seterusnya sampai empat - lima sendok. Kawan-kawan yang lain mulai tertawa melihat wajah Phillips yang pasrah, dengan sedikit tawa yang dipaksakan.

“Nah, sekarang dimakan. Harus sampai habis lho. Ndak boleh dibuang. Pamali buang-buang makanan….” dengan halus Wahyu berkata sambil masih mengaduk-aduk sambel dalam mangkuk soto Phillips.

Dengan muka masam dan pasrah, Phillips mau juga menyuap sesendok demi sesendok soto di hadapannya. Kawan-kawan yang melihat semakin tertawa, melihat penderitaan Phillips dalam kepedasan yang luar biasa. Sialnya lagi, dengan cueknya Wahyu menyeruput habis gelas minuman Phillips. Ah, merah padam muka si Phillips menahan pedes. Itulah pertama dan terakhir kalinya Phillips makan di Kumbasari.

Boyk matahin pensil. Cerita ini bermula di Ksirarnawa, entah ada kegiatan apa anak angin sore itu di sana. Yang jelas, pada suatu kesempatan, Boyk mencoret-coret di selembar kertas dengan sebatang pensil, mencoba membuat sebuah sketsa wajah.

“Lagi gambar siapa kamu Boyk?” Predy bertanya sambil melirik coretan Boyk.

Boyk menyebutkan sebuah nama, entah siapa.

“Lho? Kok ndak mirip?” dengan santainya Predy nyeplos.

Boyk langsung terdiam. Lalu, beberapa saat kemudian, dengan pensil terjepit di jari tengah, telunjuk, dan manis, Boyk mematahkan pensil dengan amarah yang memuncak. Boyk tersinggung berat.

Amarah Boyk masih tinggi begitu anak-anak angin berpindah dari Ksirarnawa ke Kumbasari. Boyk hanya diam duduk menyendiri, tanpa kata. Tentu saja ini suatu hal yang aneh, karena biasanya Boyk selalu ceria dan ramai. Kawan-kawan yang tidak tahu duduk permasalahan sebelumnya di Ksirarnawa, hanya bisa kasak-kusuk, basak-bisik.

Dengan rasa bersalah yang amat sangat, Predy bercerita berbisik kejadian di antara mereka sebelumnya. Lalu kawan-kawan berusaha menghibur Boyk mati-matian, tetapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya, setelah menghabiskan seporsi nasi soto babad dan segelas susu, kecerian Boyk kembali seperti semula. Haha… tidak jelas apa masalah Boyk. Karena ucapan Predy, atau karena hanya kelaparan…. :D

“Karena ucapan Predy, atau karena hanya kelaparan”

Saya setuju yang kedua Bli! :)

[Reply]

Wira Reply:

Salah, Rast! Yang bener adalah yang pertama…. ;)

21 Mar 2009, 02:31
by ganteto


boyk lg gambar foto di ktp milik g*** d***. ah masa lalu……..tidur ahh…….

[Reply]

Wira Reply:

Aku juga maunya bilang ***g ***i. Tapi untuk menghormati perasaanmu, sengaja aku tulis “entah siapa”…. :D

oooooo…itu penyebabnya.

[Reply]

Wira Reply:

Penyebab apaan Yu?

Btw, kasian juga Philips ya…. sorry Lip!

[Reply]

Wira Reply:

Hahaha… sekarang baru kita sadar, betapa jahatnya dulu sama Phillips. Sorry, Lip!

@gantet g*** d***. ah masa lalu……..tidur ahh…….
ya sekarang tataplah masa depan tetep semangat ya Tet….

[Reply]

Wira Reply:

Iya Tet! Daripada tidur, mending nganten gen kamu jak Gek-mu muh…. ;)

iya muh Tet… apa ganti nomor Hape kemarin bagian dari rencana nganten ya? (apa hubungannya?)

[Reply]

Wira Reply:

Bisa dihubung-hubungkan kok Yu. Kenken ne Tet? Tulungin nampah celeng? Siap, bos! :D

22 Nov 2009, 06:18
by Gantet


Nganten??? Knp gak trpikir ya.

[Reply]

katanya 2010?

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment