9 Apr 2009, 21:08
Journey
by Wira


Bermalam di Kuta

Sudah ingat untuk mencontreng tadi siang? Mencontreng atau tidak, Anda tetap berhak untuk berkunjung, membaca, dan berkomentar di teaterangin dot com. :D

Dari tulisan sebelumnya tentang Kumbasari, mari kita beralih ke Pantai Kuta. Memang menjadi kebiasaan, anak-anak angin 90-an akan berkonvoi menuju Pantai Kuta, setelah puas dengan soto babad Kumbasari. Lebih khusus lagi, Pantai Kuta biasanya dipakai tempat untuk mencari inspirasi, spesifiknya inspirasi operet.

Seperti pada suatu malam minggu, gerombolan anak angin kembali nongkrong di Pantai Kuta. Ngobrol hingga larut malam, bahkan menjelang pagi. Entah sampai jam berapa, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Sepanjang jalan Pantai Kuta, dikuasai oleh konvoi motor anak angin. Tiba-tiba saja, suara ribut klakson dari motor paling belakang. Ketika aku yang dibonceng Gantet menoleh ke belakang, terlihat Adhi dengan motornya terseok-seok mengejar konvoi di depan. Rupanya ban motor Adhi pecah!

Konvoi berhenti. Tengah malam menjelang pagi begitu, dimana nyari bengkel tambal ban? Diutuslah beberapa motor untuk keliling mencari bengkel. Nihil. Tidak ditemukan satu pun. Ada sih sebenarnya, sebuah bengkel yang menulis plang “bengkel 24 jam”, tapi ketika digedor-gedor dan diteriakin, tidak ada respon dari pemilik.

Lalu, dengan kondisi motor pincang seperti itu, kita memutuskan untuk bermalam di Pantai Kuta. Ada sebuah tempat di pinggir pantai, sebuah kafe kecil yang sudah tutup. Emperannya lumayan nyaman untuk tempat tidur. Adhi dan Barli yang paling cepat pulas. Adhi memang paling gampang tidur di situasi apapun. Kalau Barli, dia punya semboyan, “Lebih baik tidak makan tiga hari, daripada tidak tidur semalam!”

Wahyu, yang tidak bisa memejamkan mata, dan tidak rela melihat Adhi dan Barli ngorok dengan tidak berdosa, mulai berulah. Naluri mengganggunya memang sangat tinggi. Kejahilan Wahyu didukung oleh langit yang mulai mencurahkan hujannya. Jadilah kita bercanda sepanjang malam. Siapa berani tidur, akan diganggu, dengan cipratan air, hanya sekedar untuk bisa tertawa bersama.

Tapi lama-lama Wahyu bosan juga, akhirnya kita bisa terlelap tanpa gangguan. Setelah sempat lupa keadaan selama beberapa waktu, akhirnya aku terbangun ketika mendengar rintihan Adhi dengan background tawa Wahyu. Ah, si Wahyu mulai lagi. Tapi memang hari sudah pagi, walaupun masih agak gelap, dan satu per satu orang-orang terbangun setelah mendapat gangguan dari Wahyu.

Sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan, mencoba mencari bengkel tambal ban, siapa tahu pemilik bengkel 24 jam yang kita temukan kemarin sudah bangun tidur. Bergantian, Adhi dan yang lain menuntun motor yang bannya pecah. Motor-motor yang lain berjalan amat sangat lambat, sebagai simbol solidarisasi. Atau, jika mengebut, maka setelah sekian jauh, akan menunggu di suatu titik. Adhi punya cara sendiri untuk menghibur diri, atau melawan rasa capek. Dia mulai berteriak-teriak di jalanan yang masih sepi, menyanyikan Kuda Putih-nya Tan Lioe Ie. Adhi tidak peduli suara beronya bisa membangunkan warga sekitar.

Puncak dari petualangan ini adalah, ketika Wahyu tiba-tiba menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang halamannya agak bersemak. Dia melompat pagar, mengendap-endap bagaikan seorang pencuri. Lalu, dalam remang kegelapan, terlihat bayang-bayang seseorang sedang melepaskan celana dengan tergesa-gesa, berjongkok, dan masih berjongkok agak lama. Jika di-zoom, pasti akan terlihat wajah seorang yang sedang ngeden dengan nikmatnya. Hahaha… Wahyu tidak tahan dengan panggilan alam. Sampah biologisnya telah mencemari sebuah rumah yang tidak kita kenal pemiliknya. Haha… Wahyu, oh Wahyu…. [Maaf aibmu aku buka di sini] :D :D

Coba dulu ada C***** K, pasti nongkrongnya depan C***** K, nemenin pegawenya jagain toko, trus bisa sekalian minjem toilet disana, oya bli Adhi juga bisa konser disana…

[Reply]

12 Apr 2009, 11:16
by sukada


kenapa harus ***** ?

[Reply]

bagaimana kalau bermalam di Ubud?!

[Reply]

Sepertinya Rastiti mau membagi pengalamannya saat bermalam di Ubud, nih!

Pengalamannya bisa jadi sumbangan bergizi untuk situs ini. Tulisannya sendiri pasti menarik untuk dibaca.

Aku rasa Wira dan kawan-kawan yang lain juga pasti sependapat denganku: kami semua menantikan kehadiran tulisan “Menginap di Ubud”-nya Rastiti.

Aku rasa minggu depan merupakan deadline yang masuk akal. Jadi paling lambat dua minggu lagi tulisan itu sudah bisa kita baca di sini.

Wira mungkin harus menggeser waktu publikasi artikel-artikel lain miliknya, tapi aku rasa dia tidak akan keberatan.

[Reply]

hehehe…. jadi malu.

[Reply]

gimana kalo bermalam di kuburan aja? latihan haur koneng sama wahyu?

[Reply]

kok sama aku? sama Phala aja.

[Reply]

ha..ha..ha…jadi inget sama Ariani

[Reply]

22 Nov 2009, 06:07
by Gantet


Hahahaha. Aq ingat itu. Wahyu e’ek! Mudah2an yg punya rmh baca postingan ini hehe.
Tello,kau tak bonceng ya. Pasti bensinku di titik terendah hahahaha

[Reply]

iya dulu tidak ada circle k….

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]