30 Apr 2009, 21:08
Intermezo
by Wira


Tak Ada Cerita Malam Ini

Maaf, untuk malam ini saya tidak punya nostalgia untuk diceritakan. Saya hanya akan menyampaikan dua hal.

Pertama, mengenai pertanyaan Rasti dalam sebuah comment di postingan terdahulu, “Bli Wira kemana sajakah gerangan?”

Ternyata saya juga ingin menanyakan hal yang sama. Kemana sajakah gerangan saya? Mungkin pertanyaan ini terlontar ketika saya seolah-olah tiada, tiba-tiba menghilang, dengan tidak pernah lagi membalas comment-comment yang masuk. Entahlah, mungkin ini tanda jaman. Tandanya tingkat kejenuhan saya mulai memasuki stadium yang lebih parah.

Rasti, saya tidak kemana-mana, masih selalu di sini. Hanya mungkin tidak terlihat. Saya tidak sedang bersembunyi. Sekali lagi, mungkin hanya sedang tidak terlihat.

Berikutnya, yang kedua, mengenai pertemuan saya dengan Phala beberapa waktu yang lalu. Dibalik obrolan kita yang didominasi pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya kita tidak terlalu ingin mendengar jawabannya, tercatat dua hal penting dalam memori saya.

Pertama, mengenai postingan tradisi ngelalungin beberapa waktu yang lalu. Phala berkeras, seharusnya saya menambahkan dalam tulisan itu, bahwa setelah ngelalungin, kita tidak berkewajiban untuk memakaikan kembali celana kepada korban pelalungan.

“Emang penting ya Phal?” spontan saya bertanya, dengan kerutan kening.

“Sangat penting! Aku tidak mau, orang-orang menyangka, setelah kita ngelalungin, kita lalu memakaikan kembali celananya. Jelas aku tidak akan pernah mau memakaikan kembali celananya Sucahya!”

Lho? Kok Sucahya yang dipakai contoh! OK deh. Melalui tulisan ini, saya tegaskan, bahwa setelah berhasil ngelalungin, kita tidak pernah memakaikan kembali celana kepada si korban.

Lalu yang kedua, mengenai kebiasaan Adhi di Kumbasari. Phala mengingatkan, bahwa waktu itu Adhi vegetarian sejati. Jadi, sementara kita asyik dengan soto babad, Adhi cukup puas makan nasi hanya dengan lauk kacang kapri.

Malam itu, Phala membawa saya ke warung soto babad langganannya di Pasar Badung. Ketika makan, kita berdua menyepakati satu hal. Suatu saat, kita akan mengajak Adhi untuk makan di sana. Karena saat ini Adhi sudah tidak vegetarian lagi, tentu dia boleh menikmati soto babad. Sebagai penghormatan kepada Adhi, kita berdua sepakat, nanti, sementara Adhi lahap dengan soto babadnya, kita berdua akan mencoba hanya menikmati nasi dan kacang kapri.

OK, cukup untuk malam ini.

Coba Phala sekali-sekali menulis di blog ini, pasti seru sekali,… Kayaknya tekad makan nasi plus kacang kapri g bakal terlaksana deh…

[Reply]

hehehe……bener juga. dulu Adhi vegetarian, tapi selalu dengan baik hati menemani kita makan soto babad. dia dengan wajah Sai baba-nya yang bijak dan polos itu akan krauk krauk makan nasi dan mie, atau nasi dan kacang, pokoknya apapun yang tersedia malam itu. Adhi tze tze memang top… kangenang eee…..

[Reply]

hei, jadi malam itu Bli WIra dan Bli Phala, yang ribut berdua di bagian belakang ya?!
aduh aduh… hahaha

[Reply]

kalian ribut?

[Reply]

jadi ini lagi ngambek ceritanya? hehehe…

[Reply]

cobalah cerita tentang Vera hahahaa…kalo kau habis kisah…
atau tentang naik sepeda keliling bali karena terinspirasi olehku…
atau tentang kemah angin…

[Reply]

terinspirasi Jengki? Wah…..

[Reply]

ya aku pernah naik sepeda ke danau batur kintamani, eh…si wira cs malah ikutan keliling bali, gak mau kalah mereka

[Reply]

Wira Reply:

Haha… memang betul, Jengki yang menginspirasi aku, Adhi, dan Ardita, untuk bersepeda membelah Bali. Cerita lengkapnya sudah pernah aku tulis, silahkan klik link-link berikut: [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

Selain menginspirasi naik sepeda keliling Bali, inspirasi apa lagi yang kau tanamkan wahai Jengki?

[Reply]

9 May 2009, 17:32
by eka sucahya


jengki..satu2nya anak sma 3 yg berjiwa smansa..hehehe sebetulnya salah masuk sekolah aja dia..cuma karena pengen tetep naik sepeda maka jengki sekolah di sma 3..hehehe peace jeng!!!

[Reply]

bicara ngelalungin, tiba-tiba inget ketika anak angin lagi sibuk mengerubungi korban yang dilalungin, tiba-tiba seorang guru perempuan lewat. Beliau pikir anak angin lagi berantem karena bergerombol dan ribut, jadi dihalaulah anak-anak angin tersebut. Yang tertinggal kemudian hanya si korban dengan celana yang sudah melorot dan wajah merah Ibu guru yang kemudian pergi juga meninggalkan korban tanpa bisa berkata-kata.

[Reply]

wahai eka sucahya…gara-gara si phala aku nyantol di angin hehee

[Reply]

to wahyu: yang paling mendalam adalah inspirasi nonton film bokep…hehhee

[Reply]

hehehe…..jengki…jengki….. tolonglah kau bujuk wira untuk menulis lagi. ngambek dia gara2 phala.

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]