23 Apr 2009, 21:08
Journey Person
by Wira

3 comments

Adhi Tze-Tze

Pantai Kuta selalu menjadi tempat bermain yang menyenangkan. Tapi kadang, untuk satu dua orang, menjadi tempat yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak, jika satu dua orang inilah yang dipakai sebagai bahan utama permainan. Contohnya Philips, ketika dia dipermainkan habis sewaktu minta menjadi peran utama dalam sebuah operet. Cerita tentang ini sudah pernah saya posting di sini.

Contoh yang lain, Adhi Tiana. Selalu menyenangkan untuk menjadikan Adhi sebagai bahan ketawaan. Anda tahu lalat tze-tze? Lalat yang jika menggigit, mengakibatkan korbannya menjadi ngantuk berat. Nah, anak-anak angin percaya, Adhi pernah digigit lalat tze-tze, sehingga bawaannya ngantuk melulu, more »

16 Apr 2009, 21:08
Journey
by Wira

5 comments

Adegan Seru?

[Pastikan Anda sudah pernah merayakan sweet seventeen sebelum melanjutkan membaca....]

Banyak lagi cerita tentang Pantai Kuta. Pernah suatu hari, Wahyu bercerita tentang cerita salah satu kawannya, sebut saja Bejo, bukan nama sebenarnya. Dalam cerita itu, disebutkan, pada suatu pagi dini hari, si Bejo menyaksikan sebuah adegan mesum sepasang bule di pinggir Pantai Kuta. Benar-benar adegan mesum seperti di film-film yang dibintangi Asia Carrera. Ketika si Bejo mencoba mendekat untuk menyaksikan lebih jelas, pasangan bule itu bukannya malu, tapi tambah bersemangat, tidak risih sedikit pun. Setelah adegan puncak tercapai, more »

9 Apr 2009, 21:08
Journey
by Wira

10 comments

Bermalam di Kuta

Sudah ingat untuk mencontreng tadi siang? Mencontreng atau tidak, Anda tetap berhak untuk berkunjung, membaca, dan berkomentar di teaterangin dot com. :D

Dari tulisan sebelumnya tentang Kumbasari, mari kita beralih ke Pantai Kuta. Memang menjadi kebiasaan, anak-anak angin 90-an akan berkonvoi menuju Pantai Kuta, setelah puas dengan soto babad Kumbasari. Lebih khusus lagi, Pantai Kuta biasanya dipakai tempat untuk mencari inspirasi, spesifiknya inspirasi operet.

Seperti pada suatu malam minggu, gerombolan anak angin kembali nongkrong di Pantai Kuta. Ngobrol hingga larut malam, bahkan menjelang pagi. Entah sampai jam berapa, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. more »

2 Apr 2009, 21:08
Journey Kuliner
by Wira

11 comments

Masih, Tentang Kumbasari

Jika Anda pernah mendengar musikalisasi puisinya anak angin yang berjudul Insomnia, yang diaransemen sekitar tahun 2000 berdasarkan puisiku, In Somnya [1], mungkin Anda cukup familiar dengan kalimat ini, “Typusnya soto babad pojok pasar….”

Sebaris kalimat itu memang terinspirasi dan aku dedikasikan untuk warung soto babad Kumbasari langganan anak-anak angin tahun 90-an. In Somnya [1] aku buat sekitar awal Januari 1997, waktu sudah kelas 3 SMA. Saat itu, warung soto babad Kumbasari mulai jarang memberikan pelayanannya kepada anak angin. Penyebabnya adalah si ibu penjual mulai sakit-sakitan. more »

26 Mar 2009, 21:08
Journey Kuliner
by Wira

35 comments

Tiang Nak Ten Sengaja

Dari sekian banyak cerita tentang soto babad Kumbasari, mungkin kejadian berikut ini adalah yang paling seru, paling menegangkan.

Malam itu, kita berempat, aku, Adhi, Wahyu, dan Jengki, nongkrong di Kumbasari. Seperti biasa, kita memesan soto babad dan minuman kesukaan masing-masing. Kita duduk di sebuah meja persegi di sebelah selatan warung, yang bisa ditempati di keempat sisinya. Jengki dan Adhi duduk di sisi barat, dengan Jengki di sebelah selatan, sementara Wahyu dan aku duduk di sisi timur, dengan Wahyu di sebelah selatan. Setelah masing-masing nambah sepiring nasi lagi, kita pun ngobrol ngalur ngidul, tidak lupa tertawa terbahak-bahak. more »

19 Mar 2009, 21:08
Journey Kuliner
by Wira

14 comments

Kumbasari, Lagi

Ada banyak kejadian yang pernah kita lewati di warung soto babad Kumbasari, tempat nongkrong favorit anak angin tahun 90-an. Berikut beberapa moment yang masih teringat.

Wira ngambul, ngambek. Saat itu, mungkin sekitar Agustus 1995 atau 1996, lupa. Yang jelas deket-deket ulang tahunku. Ceritanya, aku ditodong oleh kawan-kawan untuk traktiran soto babad. Maka malam itu kita janjian ketemu di Kumbasari. Berhubung aku tidak punya motor, maka seseorang ditugaskan untuk menjemput, entah Adhi atau Gantet, aku lupa. Lama menunggu, si penjemput tak kunjung datang.

Karena keterlambatan penjemput, akupun tiba di Kumbasari sangat terlambat. more »

22 Jan 2009, 21:08
GKS Journey Operet Person
by Wira

21 comments

Phillips Keliling Bali!

Masih tentang Phillips. Saat ini ketika Phillips sudah menginjak kelas 3, anak angin sedang dalam persiapan produksi operet untuk GKS tahun 1996. Seperti ritual tradisi anak angin dalam suatu produksi operet, yang dimulai dengan mencari inspirasi malam sampai larut di Pantai Kuta, begitu juga kali ini. Beberapa anak angin, khususnya cowok-cowok, malam itu telah bersiap-siap menuju Pantai Kuta.

Yang spesial malam itu adalah, di antara rombongan anak angin, terselip seorang Phillips! Lho, apanya yang spesial? Sangat spesial, karena tidak pernah sekalipun sebelumnya, Phillips diperbolehkan oleh Ibunda tersayang untuk ikut hura-hura sampai tengah malam bersama angin. more »

Mejogedbumbungan di Kerambitan [Mas Ari' Nganten]

Takkan pernah kubiarkan dunia berhenti berputar
Takkan pernah
Anak-anak berlari dalam suka abadi

Kupanggil namamu dari tempat yang jauh
Adakah kau mendengar dengan rasa rindu

Tangan, kaki, serasa lepas
Mengembara dalam kesenangan sendiri
Tapi… biarkan mereka berlari….
Seperti kami… membentangkan tangan….
Lihatlah! Langit begitu luas untuk kehadiranmu

Puisi di atas adalah sebuah puisi dari Sthiraprana Duarsa, berjudul Biarkan Anak-anak Berlari. more »

1 Jan 2009, 21:08
Journey
by Wira

22 comments

Membelah Bali [7]

Tak terasa, pagi di Kintamani menjadi awal hari kelima perjalanan kita bertiga. Sebelum melanjutkan mengayuh sepeda, aku, Adhi, dan Ardita sempat foto bareng dengan anak laki-laki si Ibu penjaga warung, umur sepuluh tahunan. Matanya berbinar riang, mungkin itu pertama kali dia difoto. Mungkin juga terpikir di benaknya, “Suatu saat aku ingin seperti kakak-kakak yang gagah perkasa ini….” Lalu, hanya ucapan terima kasih yang kita tinggalkan.

Jalanan masih menanjak. Menurut perhitungan Ardita, yang lumayan menguasai daerah di sana, hari itu juga kita bisa sampai di desanya, Manukaya, Tampaksiring, Gianyar. Selambat-lambatnya kayuhan sepeda kita, more »

29 Dec 2008, 21:08
Journey
by Wira

5 comments

Membelah Bali [6]

Meninggalkan Gitgit relatif lebih mudah. Pertama, karena rem sepedaku sudah mantap. Kedua, karena cuaca tidak lagi hujan. Ketiga, tentu saja karena jalanan yang menurun, walaupun masih berkelok, jadi tidak diperlukan power maksimal untuk mengayuh sepeda. Fase ini adalah fase bersenang-senang buat kita. Bahkan sempet-sempetnya kita membuat foto “jatuh tertimpa sepeda” yang tentu saja direkayasa. Ide ini tercetus karena pada waktu aku jatuh di hari sebelumnya, tidak sempat diabadikan. Ada-ada saja.

Kita tiba di Singaraja tepat di siang hari. Perundingan kecil memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Kintamani, more »