12 Feb 2009, 21:08
GKS Operet
by Wira


Nostalgia Operet

Berikut ini saya sarikan operet-operet di jaman saya masih berstatus sebagai siswa Smansa Denpasar.

Jayaprana Layonsari - September 1994. Operet pertama saya, waktu masih kelas satu, pada MAKP terakhir, sebelum berganti nama menjadi GKS. Operet yang judulnya paling aneh. Bagaimana tidak aneh. Adegan dibuka dengan munculnya Jayaprana di panggung, memanggil-manggil Layonsari, lalu digebuki oleh para bajak laut. Setelah itu, Jayaprana Layonsari tidak pernah muncul lagi. Aneh bukan? Tokoh yang dijadikan judul, malah muncul hanya beberapa detik. Tokoh-tokoh yang lebih menonjol diantaranya Ksatria BH (kalau tidak salah diperankan Wahyu Dhyatmika, berpakaian Ksatria Baja Hitam dengan tambahan bra di luar), Suparman (kalau tidak salah diperankan Edy Hermaputra), dan Eka Sucahya (yang saya lupa memerankan siapa), juga para bajak laut pimpinan Phalayasa. Tokoh utama ceweknya kalau tidak salah diperankan oleh Sinta Larasati, yang saya juga lupa dia memerankan siapa. Saya sendiri berperan sebagai Tarzan, dengan tanpa baju, hanya bercelana kuning (celana olah raga SMP 1 Denpasar kelas 2) yang dicat totol-totol hitam.

Telepon Umum - Nov 1994? Des 1994? Lupa…. Operet ini sebenarnya produksi anak angin pada MAKP tahun 1993. Lalu ketika Wahyu Dhyatmika menerima order dari [calon] kakak iparnya untuk tampil di Inna Bali Hotel, Jalan Veteran, maka tawaran itu langsung diterima. Karena waktu yang mepet, maka diputuskan memakai operet yang sudah pernah dimainkan, yaitu Telepon Umum. Bercerita tentang kisah cinta anak SMA, yang jaman dulu lebih diekspresikan dengan telpon-telponan lewat telepon umum koin. [Belum jaman HP, kawan!] Mungkin karena bentuk badan saya dianggap enak dipandang, [hihihi... pede bgt] kembali saya mendapat peran yang tanpa berbaju, hanya bercelana pendek. Saya lupa, memerankan pemuda yang lagi mabuk, atau preman, atau malah preman muda yang lagi mabuk?

Dunia Akhirat - September 1995. MAKP telah berganti nama menjadi GKS. Kali ini karir saya dalam dunia operet meroket tajam. Bersama Gantet, saya menjadi tokoh sentral yang memperebutkan cinta tokoh utama wanita, diperankan Candra Dewi. Gagal mengejar cinta di dunia, kami tidak kenal lelah untuk menggapainya sampai di akhirat. Tapi apa daya, cinta Candra ternyata hanya untuk Ardita, pemuda pujaan hatinya. Setelah operet ini, saya menjadi begitu terkenal di kalangan siswa dan guru Smansa, dengan goyang pinggul ciptaan sendiri. Sementara itu, dialog favorit saya adalah, “Tidak wajar… wajar… jarrr…” [jarrr terakhir didubbing oleh Gantet yang super cadel, sehingga yang terdengar hanyalah jal...]

Belum Ada Judul - Oktober 1995. Dengan meledaknya operet Dunia Akhirat, pihak sekolah meminta anak angin untuk memproduksi sebuah operet yang akan ditampilkan sebagai peringatan Bulan Bahasa di Aula Smansa. Ah, pedih hati saya mengingat produksi operet ini. Saking pedihnya, saya bahkan tidak ingat operet ini bercerita tentang apa, hanya ingat judulnya, Belum Ada Judul. Kepedihan dimulai dari kesombongan saya, yang begitu yakin bisa memproduksi sebuah operet secara mandiri, benar-benar mandiri. Proses perekaman kaset, biasanya dilakukan dengan bantuan pihak ketiga, menggunakan peralatan profesional. Tapi kali ini saya berkeras untuk melakukan perekaman sendiri, menggunakan tape compo seadanya. Akhirnya beberapa kawan menjadi korban, karena kita mesti begadang sampai pagi mengejar deadline. Saya ingat harus memaksa membangunkan Barli di tengah tidur pulasnya, untuk mengambil suaranya dalam proses dubbing. Lalu keluarlah kalimat fenomenal Barli, “Lebih baik aku tidak makan berhari-hari, daripada tidak tidur sehari….” Ah, maaf, kawan-kawan. Hasil akhirnya pun super hancur, banyak noise, pokoknya mengecewakan. Tapi ada juga penonton yang berkomentar, “Gila! Operet ini jauh lebih lucu dan lebih bagus daripada waktu GKS!” Hah? Ndak salah? Ternyata si pengomentar tidak merasa salah berkomentar seperti itu, karena dia, cek kali cek, tidak menonton GKS!

[Pembukaan PSR 1996] - Des 1995? Jan 1996? Lupa…. Anak angin, melalui pihak sekolah, diminta oleh panitia PSR untuk mengisi acara pada pembukaan PSR, operet. Semula ada keinginan untuk menampilkan kembali operet yang sudah pernah kita mainkan. Tapi demi menaikkan nilai proposal keuangan, akhirnya kita memutuskan untuk membuat produksi baru. Melalui negosiasi dan lobi yang super berat dan ketat dengan pihak sekolah, Adhi Tiana berhasil menggolkan nilai proposal semaksimal mungkin, Rp 400.000,00! Kalau dikonversi ke nilai sekarang, mungkin sekitar Rp 3.333.333,33! [Dasar perhitungan, dengan membandingkan harga nasi goreng Jalan Ratna jaman dulu dengan harga saat ini, Rp 600,00 berbanding Rp 5.000,00] Nilai itu termasuk luar biasa, karena sebelum-sebelumnya proposal anak angin yang disetujui paling mentok Rp 250.000,00. Dengan anggaran yang sebesar itu, hampir 50%-nya kita saving untuk kebutuhan di luar produksi operet, seperti untuk membeli kain, lampu, dan sebagainya. Saya lupa judul dan jalan cerita operet ini. Yang jelas, termasuk sukses mengocok perut penonton. Saya hanya ingat adegan Adhi Tiana mabuk dengan segalon minuman, panggung Ksirarnawa ditumpahi dengan air, sehingga panitia sempat komplain ke anak angin. Maafkan kami, para panitia… ;)

Romeo & Sinta - September 1996. GKS tahun 1996, GKS terakhir saya berstatus sebagai siswa Smansa. Naskah dibuat oleh Imam Wahyudi dkk, bercerita tentang cinta segi empat antara Rama, Sinta, Romeo, dan Juliet. Di dalamnya juga kita selipkan sebuah adegan Hanoman mencari mustika naga, sebagai simbol pergantian Kepala SMA 1 Denpasar saat itu, dari Pak Anom ke Pak Mustika. Tokoh utama operet ini adalah Mahabudhi dan Candra Idiot. Sementara karier saya sebagai pemain sudah berakhir, tetapi suara merdu saya masih dipakai pada saat dubbing tokoh Rama. Philips, satu-satunya anak kelas tiga yang masih bermain, walaupun sebagai pemeran kecil-kecil hampir di setiap adegan. Yah, obsesinya Philips saat itu, muncul sesering mungkin di panggung.

Bused dah Bli….tahun 1994 kelas satu?? SMP ato SMA??saya 1996 ru kelas 1 SMP.wekeke.. udah ada junior berapa ney Bli..hehe..mantab-mantab..produksi nya uakehhh…keep in spirit yah..

[Reply]

Wira Reply:

Wuih… kok kesannya saya tua banget ya? Padahal belum ada junior tuh, masih mencari partner untuk memproduksi… haha… :D

“Lebih baik aku tidak makan berhari-hari, daripada tidak tidur sehari”

hahaha, saya tidak akan memilih lebih baik tidak tidur, atau tidak makan berhari-hari… :)
O, pantes aja Bli Wira ga suka dubbing, ada kenangan buruk rupanya…

Oya kemarin bertemu Bli Pala, dia cerita, dulu, ada tiga orang masuk TA, ketika ditanya latar belakang, mereka kompak menjawab “PRAMUKA”, hehehe :) siapa yang tiga orang itu?!!

[Reply]

Wira Reply:

Wah, sungguh dalam memori Phala terhadap tiga orang itu rupanya. Tiga orang itu, dengan latar belakang pramukanya, telah menaklukkan Bali dengan sepeda, dalam Ekspedisi Membelah Bali… huahahaha…. :D

weks, september 1994 aku belum setahun! Temen seangkatanku belum lahir malah!

[Reply]

Wira Reply:

Eh, kalian yang terlalu muda, apa kita yang ketuaan ya?

13 Feb 2009, 12:09
by sukada


aku juga ingat dengan ketiga pramuka itu, karena telah aku taklukkan pas LT3!!!! haha sorry Lo. Dan sorry Ardita, dia kan Pinru nya?

[Reply]

Wira Reply:

Wah… ini OOT! Comment spam!!! Tak blacklist dulu ah…. :D

13 Feb 2009, 13:22
by sukada


yang echo2an di dunia dan akhirat itu juga favoritku.
trus ada yang ‘tulll’ itu apa lengkap nya? yg jelas ‘tull’ trakhir suaranya ardita (berarti urutan nge-echo nya ngga tetep ya?

[Reply]

Wira Reply:

Apa ya? Mungkin, “Tidak betul… betul… tulll….” Iya, yang tidak wajar itu kayaknya emang sengaja dikasi ke Gantet dengan cadelnya….

wuadoohh, ternyata pengelingsir SMANSA toh wira ini wekeke…, btw kok ngga dilanjutin karir dramanya, ya ga usah sinetron dulu, cukup bondres keliling desa aja bro wekeke…

nice post, emang jaman SMA itu menggemaskan ya

[Reply]

Wira Reply:

Ah, saya lebih pantas untuk sekedar menjadi penikmat seni, ketimbang pelaku seni. Tapi ide bondres keliling desa boleh juga tuh… ntar sekali-kali saya coba deh, hihihi….

Lucu..lucu…. yang paling aku ingat: Dunia Akhirat. Kayaknya ada kejadian mobil naik trotoar itu pas persiapan operet ini ya? hehehe…

[Reply]

Wira Reply:

Eh, iya ya? Wahyu Dhyatmika, sang sopir dadakan tanpa SIM, dengan kecepatan yang tak terkontrol, menghindari mobil yang laju di depan, sampai naik ke trotoar, semua penumpang bersorak senang, hebat… hebat…, sampai akhirnya si Bagas yang duduk di belakang nyeletuk, “Wahyu, kayaknya ban mobilmu kempes deh….” Hahaha… kejadian ini waktu Dunia Akhirat ya? Lupa aku…. Tapi, sssttt… jangan bilang-bilang ke Anak Muda ya… hahaha….

ya ampun.. kalian lucu sekalii.. hahaha..

[Reply]

Wira Reply:

Eh, kalian itu siapa ya? :D

hahaha, untung ga naik trotoar di danau tempe atau tempat lain sejenis, bisa-bisa dikerubutin ***cong, hahaha

[Reply]

Wira Reply:

Lho? Kok yakin naik trotoarnya ndak di Danau Tempe atau tempat sejenis? Kan ndak disebut lokasinya? Siapa tahu emang di sana…. ;)

dunia dan akhirat itu yang ada dialog “Kiri… Kanan…” itu ya?

[Reply]

Wira Reply:

Hah? Ada dialog gitu ya? Mungkin. Saya lupa….

Saya inget waktu masih SMP, dengerin kaset yang belum pernah saya dengar seumur hidup saya (waktu itu). Asik bgt dengerinnya, kaya’ denger sandiwara radio, lucu bgt. Hehehehe, saya termasuk orang yang beruntung bisa mendengar kaset operet jaman itu. Sekarang ada dimana ya? Ada yang masih nyimpen back up nya?

[Reply]

Wira Reply:

Yah, itulah kesalahan kita jaman dulu, tidak terlalu peduli dengan dokumentasi. Jadinya sebagian kenangan hilang begitu saja. Mudah-mudahan anak angin jaman sekarang lebih peduli dalam mendokumentasi. Nostalgia angin ini juga dalam rangka mendokumentasi sedikit kenangan dalam memori yang masih tersisa, sebelum semuanya habis digerus waktu….

Aku kayaknya masih simpan video GKS th 96 master VHSnya Long Play…ada yang masih punya playernya gak ya…?

[Reply]

Wira Reply:

Wah, iya ya. Barli waktu itu bertugas sebagai sie dokumentasi. Ayo… siapa yang masih punya playernya?

22 Feb 2009, 03:16
by ganteto


Ada satu kalimat lagi :
TIDAK BOLEH CAPEK…..CAPEK…..*** hehehehehe
duh obsesi SMA lg
obsesi pemeran utamaaaaaaaaaa

[Reply]

Wira Reply:

Wah, otakmu mesti dibersihkan dari hal-hal ngeres Tet! Karena comment-mu ini, bisa jadi blog ini diblokir sebab melanggar UU Pornografi….

Mo nambahin judul.
Operet tahun berikutnya adalah :

Bawang Merah Bawang Bombay
Jaman ini Theater Angin kebanjiran model cewek, sampe anak-anak cowoknya susah diatur. Latihannya susah, dikit-dikit ngambek, nangis, pulang dijemput ortu. Untungnya survive juga ni generasi Angin.

[Reply]

Wira Reply:

Berarti angkatannya Nana dkk dong. Model-model Nana, Gung Adi, Sri, Uka, dkk. Yang cowoknya cuma tiga orang, Oki, Ardi, dan lupa satu lagi. Yang ini maksudmu Mam?

Ya betul Wir, itu dia angkatan yang dimaksud Imam. Untung aku sudah lulus waktu itu. hehehe….

[Reply]

Wira Reply:

Sok tau kamu Yu…. :)

bawang merah dan bawang bombai itu bukannya pemeran utamanya RARAS, dengan suaranya yang mendesah aduhai?

[Reply]

Wira Reply:

Ndak tau euy, aku udah tamat waktu itu…. Imam?

UNTUK PECINTA OPERET ANAK…
Pustaka Lebah pada tanggal 23-24 Mei 2009 akan menggelar operet Anak “Missing Unicorn”
acara pendukung lainya :
Lomba Galasin antar SD
Lomba mewarnai TK/SD
workshop, seminar galeri seni untuk TK/SD
sains game dari nukleus,triatlon sains,experimen roket,robot dll. dan banyak lagi

Kabaret 250 hanoman cilik (upaya pemecahan rekor Muri)untuk kls 3 s/d 4 SD.

kami butuh bantuan dari komunitas sanggar seni.untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaanya.

Hub: toni 08158181182 - 33756625
http://www.pustaka-lebah.com

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]